Krisis di Rakhine ini mendorong beberapa tokoh dunia mengecam Aung San Suu Kyi, yang dianggap gagal melindungi umat Muslim Rohingya.
Peraih Nobel Perdamaian dan tokoh antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, termasuk yang mendesak Suu Kyi untuk bertindak, selain pemenang Nobel Perdamaian lainnya, Malala Yousafzai.
"Jika harga politik Anda untuk naik ke kantor tertinggi di Myanmar adalah diamnya Anda, maka harga itu jelas amat tinggi," kata Uskup Agung Tutu, Kamis 7 September.
BACA JUGA: Pengungsi Rohingya di Bangladesh Dihantui Ancaman Pembunuh Bertopeng
Dan muncul seruan untuk mencabut Nobel Perdamaian yang diperoleh Suu Kyi pada 1991. Namun, Ketua Komite Nobel, Berit Reiss-Andersen, menegaskan langkah itu tidak dimungkinkan. Kepada stasiun radio Norwegia, dia menjelaskan Suu Kyi meraih Nobel Perdamaian karena perannya dalam 'perjuangan kebebasan di Myanmar dan melawan kediktatoran militer.'
"Dan kami tidak memiliki mandat, juga bukan tugas kami, untuk mengkaji yang dilakukan peraih Nobel setelah mereka mendapatkannya," imbuh Reiss-Andersen. (DJI)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.