Ratusan tahun lalu, badai-badai dinamai menggunakan nama orang-orang suci (saint). Misalnya, badai yang menerjang Puerto Rico pada 1825 dinamai Santa Ana, demikian penjelasan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Pada akhir abad ke-19, peramal cuaca dari Australia bernama Clement Wragge menjadi orang pertama yang menamai badai dengan alfabet Yunani. Menukil keterangan NOAA, Wragge lalu mulai memakai nama-nama perempuan untuk menyebut badai tropis.
BACA JUGA: Tolak Tinggalkan Anjingnya, Pria AS Ini Lebih Memilih 'Hadapi' Badai Irma

Warga Puerto Riko beraktivitas tanpa penerangan pasca-hantaman Badai Irma. (Foto: Reuters)
Menurut NOAA, sekelompok tentara AS pada 1944 menyebut serangkaian badai tropis di Saipan dengan nama istri mereka. Setahun kemudian, militer mulai mempraktikkan penamaan dengan nama perempuan itu untuk menyebut badai-badai di barat Pasifik.
Pada 1953, militer mengganti metode penamaan badai yang mereka pakai yaitu menggunakan alfabet fonetik dengan memberi nama perempuan untuk setiap badai. Nama laki-laki baru dipakai oleh Pusat Badai Nasional (NHC) AS sejak 1979.