SESAAT lagi umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, memperingati datangnya tahun baru hijriah. Hal ini ditandai dengan dimulainya tanggal 1 Muharam 1439H yang merupakan awal tahun dari penanggalan Islam. Diketahui, Muharam adalah satu dari empat bulan haram atau suci. Keempatnya yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Maka itu, dalam menyambut kehadiran 1 Muharam, masyarakat Tanah Air dan dunia menyelenggarakan tradisi khas di daerahnya.
Di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ada tradisi bernama Grebeg Suro (Gerebek Sura). Grebeg Suro adalah acara kebudayaan masyarakat Ponorogo berbentuk pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.
Sejarah lahirnya Grebeg Suro dimulai pada 1980-an di saat kalangan warok (seniman reog) dalam menyambut malam 1 Suro melakukan tirakatan semalaman suntuk dengan mengelilingi kota hingga berakhir di area alun-alun. Kala itu Bupati Ponorogo Soebarkah Poetro Hadiwirjo melihat tradisi masyarakat ini bisa menjadi keunggulan di sana dan harus diwadahi.
Pewadahan tradisi Grebeg Suro ternyata mendapat apresiasi tinggi dari warga karena melestarikan kesenian Ponorogo. Disinyalir pada waktu itu minat para pemuda terhadap reog khas Ponorogo mulai luntur, maka diputuskan turut diikutsertakanlah kesenian tersebut di dalamnya.
(Baca: OKEZONE STORY: Sejarah Hari Olahraga Nasional, dari Murni Kompetisi hingga Kentalnya Nuansa Politik)