Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 10 Oktober 2017 |14:26 WIB
Sedih! Bocah Rohingya Diperkosa dan Harus Melihat sang Ayah Ditembak Mati Tentara Myanmar
Pengungsi Rohingya. (Foto: BBC)
A
A
A

BUKAN hanya perempuan dewasa pengungsi Rohingya yang menjadi korban pemerkosaan massal, tetapi banyak anak-anak di bawah umur juga ternyata menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan tentara Myanmar.

Salah satu korban adalah Adjida yang masih trauma karena diperkosa tentara Myanmar dengan mengenakan masker di wajahnya. Bocah berusia 13 tahun itu menceritakan sudah meminta tentara menghentikan aksi kejamnya, tetapi tentara itu tak memiliki belas kasihan.

Setelah Adjida diperkosa, dia juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri si prajurit menembak mati ayahnya yang bersembunyi di bawah meja. Dia berusaha melarikan diri ke hutan, tetapi tentara Myanmar berhasil menangkapnya kembali. “Saya masih merasakan sakit. Saya telah kehilangan keperawanan. Saya sulit menemukan suami,” ujar Adjida dilansir Reuters.

Rumah Adjida juga sudah dibakar di Kawarbil oleh tentara Myanmar. Setelah itu, dia melarikan diri ke perbatasan Bangladesh bersama kakak perempuannya, Minara, sebulan lalu. Mereka tinggal di kamp pengungsi sementara yang terbuat dari bambu dan beratapkan plastik.

(Baca juga: Astaga! Terlibat Cinta dengan Perempuan Rohingya, Pria Ini Diburu Polisi Bangladesh)

“Orang tua kita dan dua kakak perempuan tewas. Mereka tidak lagi bisa merawat kita. Di kamp, kita mendengar beberapa gadis juga diperkosa. Itu kenapa kita tetap berada di tenda sepanjang waktu,” ungkap Minara.

Baik Adjida dan Minara tetap melanjutkan sekolah di kamp pengungsi. Mereka juga mengaku malu dengan apa yang telah terjadi dengan mereka. “Saya memiliki banyak mimpi untuk masa depan,” ungkap Minara.

Dia mengaku juga tak memiliki baju lagi untuk menutupi tubuhnya. Dia meminjam baju dari tetangganya di kamp pengungsian. Minara dan Adjida enggan kembali ke Myanmar. “Saya lebih baik mati dari pada kembali ke Myanmar,” ungkap Minara. Dia mengaku di Bangladesh tidak ada lagi senjata.

(Baca juga: Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?)

Sedangkan adiknya, Adjida, juga sepakat dengan pendapat kakaknya. “Saya lebih baik mati ketika tentara Myanmar menangkap saya lagi. Lebih baik mati dibandingkan kehilangan keperawanan,” tutur Adjida.

Menurut kepala perlindungan anak-anak Badan Perserikatan Bangsa- Bangsa Urusan Pengungsi Jean Lieby mengungkapkan, kekerasan seksual memang kerap terjadi terhadap perempuan etnik Rohingya. “Sebanyak 800 insiden kekerasan gender dilaporkan pengungsi Rohingya. Separuh di antaranya adalah kekerasan seksual,” ungkap Lieby.

Namun, lembaga kemanusiaan mengalami banyak kesulitan memberikan bantuan dengan banyaknya jumlah pengungsi. “Kita baru sebulan di sini, ternyata jumlah pengungsi sangat banyak. Setengah juta orang berdatangan,” ungkap Lieby.

Dia mengungkapkan, pihaknya terus bekerja sama membantu pengungsi anak-anak. “Kita juga fokus menyembuhkan anak-anak yang menjadi korban pemerkosaan,” tuturnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement