Sebanyak 515.000 pengungsi Rohingya tiba di Bangladesh karena kekerasan yang semakin intensif di negara bagian Rakhine, Myanmar. PBB menyebut aksi militer Myanmar sebagai pembersihan etnik.
“Mereka merasa nyaman di sini. Mereka sering berbicara terbuka tentang trauma mereka,” ungkap juru bicara UNFPA (Badan PBB untuk Dana Penduduk) Veronica Pedrosa. Lembaga donor membangun tempat aman di kamp pengungsi Kutupalong.
Di lokasi itu, perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisa mendapatkan konseling dan dukungan. Meskipun konseling sudah dilaksanakan, masih banyak anak-anak tidak mengaku kalau mereka adalah korban pemerkosaan.
“Anak-anak mengalami ketakutan jika disebut sebagai korban pemerkosaan. Mereka khawatir dengan opini buruk tentang keluarganya,” ujar Rebecca Duskin, perawat yang fokus menangani korban kekerasan seksual.
Sementara sedikitnya 12 orang pengungsi Rohingya tewas, mayoritas adalah anak-anak, tenggelam ketika kapal yang mereka tumpangi terbalik. Itu menjadi korban terbaru para pengungsi yang melarikan diri dari tanah air mereka karena kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.