nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gantung Sepatu, Mantan Pesepakbola George Weah Jadi Capres Unggulan di Liberia

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017 10:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 13 18 1794572 gantung-sepatu-mantan-pesepakbola-george-weah-jadi-capres-unggulan-di-liberia-ecYOz5IMpm.jpg Mantan bintang sepakbola, George Weah, memberikan suaranya dalam pilpres Liberia. (Foto: Reuters)

MONROVIA - Mantan bintang sepakbola, George Weah, memimpin hasil perhitungan cepat awal dalam pemilihan presiden (pilpres) di Liberia. Weah, unggul di 11 dari 15 negara bagian dalam pesta demokrasi pertama di negara Afrika itu setelah puluhan tahun lamanya.

Melansir Reuters, Jumat (13/10/2017), Ketua Komisi Pilpres Liberia membacakan hasil awal dari pemungutan suara yang digelar Selasa 10 Oktober kepada wartawan. Data itu menunjukkan, Weah dapat memenangi suara mayoritas sehingga tidak perlu melaju ke pilpres putaran kedua.

Rivalnya, yaitu Wapres Liberia, Joseph Boakai juga menjadi kandidat yang difavoritkan warga. Dalam perhitungan cepat ini, Boakai unggul hanya di satu negara bagian, namun keluar di peringkat kedua pada negara bagian lainnya.

"Saya dapat memastikan bahwa Duta Besar George Manneh Weah akan menjadi presiden berikutnya di Republik Liberia. Rakyat Liberia telah memberikan suaranya," klaim penasihat Weah, Mulbah Morlu, kepada Reuters.

Hasil akhir dari pemilu tahap pertama ini akan diumumkan pada 25 Oktober. Pilpres tahap kedua akan dihelat bulan depan jika tidak ada kandidat yang mengantongi suara mayoritas.

Sebelum pengumuman hasil perhitungan cepat, partai-partai politik yang mendukung tiga kandidat lainnya menuduh ada kecurangan. Mereka juga menuntut penyelidikan atas hasil tersebut. Meski begitu, pengamat internasional menyatakan, tidak ada masalah dengan hasil pemungutan suara.

"Penyelenggaraan pemungutan suara telah dinilai dan kami memberi predikat baik, bahkan sangat baik," demikian misi Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Pengamat dari Pusat Carter dan Institut Demokrasi Nasional yang berbasis di Amerika Serikat (AS) juga menyatakan bahwa mereka tidak menemukan masalah besar dengan pemilihan umum dan penghitungan suara.

Tuduhan itu menyebutkan adanya ketidaksamaan jumlah surat suara. Pihak yang tidak puas menuduh, tambahan surat suara dicetak sebelumnya dan sudah ditandai dengan pilihan untuk Boakai dari parpol penguasa saat ini, Partai Persatuan, yang juga menaungi Presiden Ellen Johnson Sirleaf.

Bagaimanapun juga, tidak ada yang mampu menunjukkan bukti kecurangan tersebut. Pemimpin Partai Persatuan juga enggan memberikan respons atas tuduhan tersebut.

Sebelumnya, Johnson Sirleaf, yang menjadi perempuan presiden pertama di Afrika pada 2005 menyebut pemilihan suara ini sebagai momen bersejarah. "Kita semua percaya bahwa rakyat Liberia siap dengan proses ini. Saya berterima kasih kepada mereka yang berpartisipasi dalam pemilu," ujar Sirleaf.

Liberia adalah republik modern tertua di Afrika. Ia didirikan oleh para budak yang dibebaskan Amerika Serikat (AS) pada 1847. Perpindahan kekuasaan secara demokratis di negeri ini terakhir terjadi pada 1944.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini