Image

PPMI Mesir Sesalkan Respons KBRI atas Penangkapan 5 Mahasiswa Indonesia

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 09:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 07 18 1826501 ppmi-mesir-sesalkan-respons-kbri-atas-penangkapan-5-mahasiswa-indonesia-iRpMhYyxKK.jpg Ilustrasi penangkapan (Foto: Suzanne Plankett/Reuters)

JAKARTA – Otoritas Mesir kembali menangkap lima orang mahasiswa asal Indonesia pada 22 November. Dua dari lima orang tersebut langsung dibebaskan karena membawa dokumen keimigrasian yang lengkap. Akan tetapi, tiga orang lainnya tidak dapat menunjukkan dokumen serupa karena sedang dalam proses pengurusan.

Kelima orang tersebut adalah Dodi Firmansyah Damhuri, Muhammad Jafar, Muhammad Fitrah Nur Akbar, Ardinal Khairi, dan Hartopo Abdul Jabar. Dodi dan Muhammad Jafar langsung dibebaskan, sementara Fitrah Nur Akbar, Ardinal, dan Hartopo tidak dapat langsung dibebaskan.

Pihak Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir (PPMI) menyayangkan respons pihak Kedutaan Besar RI (KBRI) Kairo yang dinilai lambat dalam menangani penangkapan tersebut. Bahkan, pihak KBRI bersikap tidak ramah dengan memperkeruh suasana.

“PPMI Mesir menyayangkan pernyataan provokatif oknum pejabat KBRI Kairo yang dinilai memperkeruh suasana dengan menganjurkan kepada keluarga mahasiswa yang ditahan agar Mahasiswa Indonesia di Mesir melakukan demonstrasi di depan Kantor Imigrasi, Kantor Polisi dan Lembaga Azhar,” bunyi pernyataan resmi PPMI Mesir, dalam pesan singkat kepada Okezone, Kamis (7/12/2017).

“Padahal dalam hukum yang berlaku di Mesir saat ini, demonstrasi adalah hal ilegal dan akan dikenakan hukum pidana. Tentu hal ini sangat kontraproduktif dalam penyelesaian permasalahan ini dan berimbas negatif terhadap keamanan mahasiswa Indonesia di Mesir ke depannya,” sambung pernyataan tersebut.

PPMI Mesir memohon kepada Pemerintah Indonesia agar segera dapat melakukan upaya pembebasan kepada satu mahasiswa Indonesia yang hingga saat ini masih ditahan. Pihak PPMI serta Kelompok Studi Mahasiswa Riau (KSMR), dan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Sumatera Utara (PPM Sumut) secara rutin membesuk rekan yang ditahan dan memberikan kebutuhan dasar selama berada di tahanan.

Mereka menyangsikan pernyataan dari KBRI Kairo yang menyebutkan pihaknya sudah mengupayakan kondisi layak selama berada di tahanan dengan memberikan bantuan berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari. Sebab, sejak penangkapan hingga rilis resmi pada 4 Desember, pihak KBRI baru sekali membesuk rekan mahasiswa, tepatnya pada 25 November.

Otoritas Mesir akhirnya mendeportasi Ardinal Khairi dan Hartopo pada 30 November dengan alasan ‘Keamanan Nasional’. Akan tetapi, mereka tidak pernah mendapatkan penjelasan rinci maksud dari keamanan nasional tersebut. Sementara Muhammad Fitrah Nur Akbar masih ditahan di Kantor Kepolisian Qism Tsani, Kairo, dengan alasan yang sama tanpa penjelasan.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini