Arab Saudi Sempat Tawarkan Alternatif Ibu Kota untuk Palestina

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 08 Desember 2017 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 08 18 1827150 arab-saudi-sempat-tawarkan-alternatif-ibu-kota-untuk-palestina-1csG8l70Sd.JPG Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, menawarkan opsi tersebut saat Mahmoud Abbas berkunjung ke Riyadh (Foto: Hamad I Mohammed/Reuters)

RIYADH – Meski mengecam keputusan pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, Arab Saudi nyatanya pernah menawarkan Abu Dis sebagai alternatif Ibu Kota Palestina. Tawaran itu disampaikan langsung oleh Pangeran Mohammed bin Salman.

BACA JUGA: Pemerintah AS Resmi Umumkan Status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Fakta tersebut diungkapkan oleh harian New York Times edisi Minggu 3 Desember. Pangeran Mohammed bin Salman mengusulkan pemindahan Ibu Kota itu saat Presiden Otoritas Palestina (PLO), Mahmoud Abbas, berkunjung ke Riyadh, pada November.

Melansir dari Middle East Monitor, Jumat (8/12/2017), berdasarkan usulan itu, Palestina akan mendapatkan sebuah wilayah yang tidak bersebelahan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sementara itu, sebagian besar pemukiman Israel di Tepi Barat tetap dibangun.

Tawaran tersebut juga tidak memberikan jaminan apapun terhadap pengungsi asal Palestina dan keturunannya yang tinggal di negara lain untuk bisa kembali ke asalnya. Menurut New York Times, Mahmoud Abbas punya tenggat waktu dua bulan untuk merespons tawaran tersebut.

BACA JUGA: Arab Saudi Kecam Pengakuan AS soal Yerusalem Ibu Kota Israel

Abu Dis adalah sebuah kota tua di Palestina yang berada dekat Yerusalem Timur. Menurut Perjanjian Oslo, Abu Dis masuk dalam Area B yang diatur bersama oleh Israel dan Otoritas Palestina. Padahal, Palestina selama ini memperjuangkan Yerusalem sebagai Ibu Kota yang sah.

Sesuai resolusi PBB, Kota Yerusalem diberikan status legal dan politik spesial di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam resolusi yang sama, PBB menawarkan solusi dua negara (two-state solution) agar kedua pihak bertikai bisa hidup berdampingan dengan Yerusalem Timur berada di bawah kekuasaan Palestina.

Sebagaimana diberitakan, pemerintah AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Rabu 6 Desember. Pengakuan tersebut memunculkan reaksi negatif karena dianggap membahayakan prospek perdamaian. Washington dituding hanya ingin memberikan dukungan politik kepada Israel dengan mengabaikan hak-hak dasar warga Palestina.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini