Ishi dipekerjakan di museum, ia menjadi objek museum itu sendiri. Kepada anak-anak, ia memperlihatkan keterampilannya membuat busur dan panah. Seiring berjalannya waktu, Ishi dan para pekerja museum menjadi teman.
Ishi hanya lima tahun menjadi bagian dari masyarakat modern dan membaur bersama orang-orang kulit putih. Terbiasa hidup di tempat terpencil dan alami, Ishi menjadi rentan terserang virus dan penyakit yang berkembang di masyarakat modern. Pada 25 Maret 1916, ia meninggal akibat mengidap tuberkulosis dan tubuhnya dikirim untuk diotopsi. Teman-temannya berusaha mencegah otopsi tersebut agar ia dimakamkan sesuai tradisi masyarakat Yahi, namun usaha mereka sia-sia.
Para dokter Universitas California memisahkan otak Ishi untuk diteliti sebelum tubuhnya dikremasi. Sebagian abu anggota terakhir suku Indian Yahi itu dikuburkan di pemakaman Bukit Olivet di dekat San Fransisko. Otak Ishi dikirim ke Smithsonian Institution di Washington oleh Alfred Kroeber sampai 10 Agustus 2000. Kemudian, otak itu diberikan ke suku Pit River yang menguburkan otak dan abu Ishi di lokasi rahasia di wilayah Deer Creek. (Griska Laras/Magang).
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.