Share

Awal Pendudukan Israel di Yerusalem, dari Deklarasi Balfour Sampai Perang Enam Hari

Rahman Asmardika, Okezone · Minggu 10 Desember 2017 21:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 10 18 1828177 awal-pendudukan-israel-di-yerusalem-dari-deklarasi-balfour-sampai-perang-enam-hari-HerIjOp3St.jpg Foto: Reuters

SITUASI di Timur Tengah, terutama di wilayah Palestina-Israel kembali memanas pekan ini setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Israel. Keputusan itu disambut dengan kecaman dan kemarahan dari dunia internasional, baik negara-negara Arab mau pun sekutu AS di Barat.

Sebelum keputusan yang diumumkan pada Rabu, 6 Desember waktu Washington itu, Pemerintah AS lebih memilih untuk menjaga status quo dari Yerusalem. Pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan pemindahan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem telah direncanakan sejak 1995, tetapi Presiden AS terdahulu sepakat bahwa status Yerusalem hanya dapat diputuskan melalui perundingan.

BACA JUGA: Sepucuk Surat yang Mengawali Penderitaan Panjang Rakyat Palestina

Konflik Palestina-Israel berawal sejak masa Perang Dunia I dengan diterbitkannya Deklarasi Balfour yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Arthur James Balfour pada 2 November 1917. Deklarasi yang kemudian dikirimkan kepada warga keturunan Yahudi terkemuka, Baron Lionel Walter Rothschild itu intinya berisi dukungan Inggris terkait pendirian pembentukan negara Yahudi di tanah Palestina.

Deklarasi Balfour dibuat di tengah situasi sulit yang dihadapi Inggris pada Perang Dunia I. Inggris yang terjebak dalam stalemate menghadapi Jerman dan baru saja gagal menaklukkan Ottoman Turki di Galipoli berharap dukungannya terhadap gerakan Zionis dapat membuahkan sokongan dari kaum Yahudi di AS dan Rusia.

Setelah Perang Dunia I berakhir, Inggris sebagai salah satu pemenang mendapat kuasa untuk menjadi protektorat di Palestina yang sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Ottoman sesuai dengan mandat dari Pakta Versailles 1919. Situasi ini dimanfaatkan untuk membuka pintu eksodus kaum Yahudi ke Palestina.

Hanya dalam waktu singkat, populasi Yahudi di Palestina meningkat drastis diiringi dengan munculnya konflik antara Arab dengan Yahudi. Situasi ini sedianya akan berusaha ditangani oleh Inggris, namun pada 1945, Perang Dunia II pecah.   

Sebagaimana diketahui, selama Perang Dunia II, kaum Yahudi terutama di Eropa menerima pukulan hebat akibat kebijakan dari Nazi Jerman. Trauma Holocaust dan kekejaman yang diterima kaum Yahudi semakin meningkatkan dukungan pada gerakan Zionisme dan pembentukan negara Yahudi.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Pada 14 Mei 1948, Pimpinan Organisasi Zionis Dunia, David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya Israel sebagai negara merdeka di tanah Palestina. Langkah itu mengubah perang sipil yang telah lama terjadi di Palestina menjadi sebuah perang besar setelah Mesir, Yordania dan Suriah berinisiatif melakukan invasi untuk membebaskan Palestina sehari setelah deklarasi Israel.

Perang berlangsung sengit selama sekira 10 bulan. Meski kalah dalam perlengkapan dan jumlah, pasukan Israel ternyata memberi perlawanan sengit dan berhasil menguasai wilayah-wilayah penting.

Di akhir peperangan, Israel menguasai wilayah-wilayah yang diajukan dalam Rencana Pemisahan 1948 yang mencakup Jaffa, Lyda, Ramle, Gallilee, Negev dan Yerusalem Barat hingga Tel Aviv. Sementara Yordania dan Mesir mengontrol wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur dan Jalur Gaza.

BACA JUGA: PBB Putuskan Pembagian Wilayah Palestina

Konflik itu juga memicu eksodus sekira 700 ribu warga Palestina dari daerah mereka yang menjadi wilayah Israel. Peristiwa itu dikenal dengan nama Al Nakba atau “Bencana Besar” dan menjadi bagian kelam dalam konflik Israel-Palestina.

Daerah kekuasaan Israel kembali bertambah luas setelah berhasil menghancurkan serangan pasukan gabungan negara-negara Arab yang terdiri dari Mesir, Yordania, Suriah, Irak dan Lebanon dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967. Setelah kemenangan tersebut, Israel berhasil mencaplok Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan serta Sinai dari Mesir dan Yordania.

Israel bersedia mengembalikan wilayah-wilayah tersebut kepada negara-negara Arab sebagai ganti pengakuan kedaulatan Israel sebagai sebuah negara. Namun, Yordania dan negara Arab lainnya menolak mengakui Zionis dan tidak bersedia bernegosiasi. Pada akhirnya, hanya Mesir yang menyatakan pengakuannya terhadap Israel sebagai ganti pengembalian wilayah Sinai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini