nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Penyebab Jakarta Semakin Macet, Nomor 3 Bikin Miris

Silvia Rahmatina, Jurnalis · Selasa 12 Desember 2017 19:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 12 338 1829288 5-penyebab-jakarta-semakin-macet-nomor-3-bikin-miris-2D7ns9Nt7U.jpg Ilustrasi. Foto Okezone

JAKARTA – Kemacetan menjadi polemik di setiap kota di Indonesia, terlebih lagi di Ibu Kota, DKI Jakarta. Mereka yang beraktivitas di Jakarta harus merasakan stresnya menghadapi kemacetan yang tidak kenal jam, tidak terkecuali di akhir pekan.

Kemacetan di Jakarta tentu disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, jumlah kendaraan yang kian banyak namun tidak didukung peningkatan infrastruktur jalan. Alih-alih menambah ruas jalan, berbagai jalan di Ibu Kota cenderung menyempit karena masifnya beragam pembangunan.

Berikut beberapa fakta mengenai kemacetan di Jakarta, seperti dirangkum Okezone, Selasa (12/12/2017).

1. Kemacetan di Jakarta Menempati Peringkat 7 di Dunia

Berdasarkan data yang dihimpun dari Numbeo.com, Jakarta menduduki peringkat ke-7 sebagai kota termacet di seluruh dunia pada 2017. Indeks kemacetan di Jakarta mencapai 279,89. Peringkat kemacetan tahun ini naik mengingat pada 2016 Jakarta hanya bertengger di posisi ke-17 sebagai kota termacet di seluruh dunia.

 Baca Juga: Orang Indonesia Paling Malas Jalan Kaki, Hanya 3.513 Langkah per Hari!

2. Jumlah Kendaraan Bermotor di Jakarta Naik Tiap Tahun

Salah satu faktor yang dituding menjadi sumber kemacetan adalah kian banyaknya pengendara sepeda motor di Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 2012-2016, pertumbuhan jumlah sepeda motor di Jakarta naik 5,30%. Kenaikan terbesar terjadi pada 2015 dengan 13.989.590 sepeda motor. Baca Juga: 2020, Jumlah Sepeda Motor Diprediksi Tembus 66 Juta Unit

Peningkatan jumlah sepeda motor ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sepeda motor dianggap kendaraan yang paling ekonomis. Selain itu, terjangkaunya harga sepeda motor dan proses kepemilikannya yang sangat mudah juga turut mendongkrak keberadaan sepeda motor di Ibu Kota.

3. Angka Kecelakaan Meroket

Tingginya jumlah kendaraan di Jakarta berbanding lurus dengan tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas. BPS melansir, pada 2016 terdapat 6.180 kasus kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Dari ribuan kasus itu, 678 orang meregang nyawa, 2.250 orang terluka berat dan 4.487 orang mengalami luka ringan. Total kerugian materi akibat kecelakaan sepanjang tahun lalu mencapai Rp20.295.000.

Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Ibu Kota juga tidak terlepas dari banyaknya pengemudi yang berusia di bawah 17 tahun. Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, pada 2015 saja terjadi 290 kasus kecelakaan. Tercatat 12 anak meninggal dunia, 96 anak luka berat, dan 107 anak luka ringan sepanjang periode itu. Angka kecelakaan ini meningkat 14% dibanding tahun sebelumnya. Pada 2014 tercatat, 183 kasus kecelakaan menyebabkan 16 anak meninggal, 56 anak luka berat, dan 72 anak luka ringan.

4. Dilema Ojek Online, Solusi Sekaligus Penyebab Kemacetan

Pengelolaan angkutan umum yang tidak rapi di Jakarta membuat banyak pengguna jalan memilih transportasi alternatif. Ojek online kini menjadi primadona.

Simak Juga: Transportasi Konvensional Masih Dibutuhkan di Era Ojek Online

Nyatanya, solusi ini turut menyumbang kemacetan. Tak heran, salah satu perusahaan ojek online saja memiliki lebih dari 200 ribu pengemudi.

5. Macet Membawa Berkah

Di balik semua keruwetan tersebut, ternyata kemacetan di Ibu Kota juga mendatangkan rezeki bagi beberapa pihak. Penjual makanan, minuman, masker untuk pengendara motor hingga pengamen menjadi penghias jalan saat jam-jam sibuk dan padat. Mereka memenuhi pundi-pundi uang dari para pengguna jalan yang menghabiskan waktu di berbagai kios kaki lima tersebut hingga kemacetan terurai.

(fzy)
1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini