Share

Konflik Berkepanjangan, Palestina Ingin Damai dengan Israel Sejak 1993

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Jum'at 15 Desember 2017 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 15 18 1830996 konflik-berkepanjangan-palestina-ingin-damai-dengan-israel-sejak-1993-bGt14XySF4.jpg Bendera nasional Palestina (Foto: AFP)

JAKARTA – Duta Besar Palestina untuk Indonesia Terpilih, Zuhair al Shun mengatakan, negaranya saat ini tengah mencari pihak ketiga sebagai mediator perdamaian dengan Israel. Akan tetapi, dengan sikap Israel yang kerap melakukan agresi, hal tersebut agak sulit dicapai.

“Kami meminta komunitas internasional untuk bertindak terhadap Israel. Kami akan terus membela serta mempertahankan diri (dari serangan Israel),” ujar Zuhair al Shun dalam forum diskusi Bengkel Diplomasi FPCI di Menara Mayapada, Jakarta Pusat, Jumat (15/12/2017).

Ia menambahkan, Palestina sebenarnya sudah mulai membangun negara serta membentuk pemerintahan yang sah sesuai mandat Perjanjian Oslo 1993. Namun, Israel terus menerus melakukan okupasi wilayah sehingga pembangunan dalam berbagai bidang itu menjadi terhambat.

BACA JUGA: 5 Titik Penting Yerusalem, Kota Suci yang Diperebutkan Israel-Palestina

Masalah antara Israel dengan Palestina, menurut Zuhair, baru akan selesai jika ada pemimpin Negeri Zionis yang menginginkan perdamaian seperti halnya mendiang Yitzhak Rabin. Sebagai informasi, Perjanjian Oslo 1993 tercapai antara Rabin dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat.

“Sayangnya Rabin dibunuh ketika dengan yakin mengatakan bahwa ingin menyelesaikan konflik dalam lima tahun. Kita butuh yang seperti itu. Kita sudah ingin damai sejak 1993,” sambung Zuhair al Shun.

Inisiatif lain yang coba digagas adalah Camp David pada 2000. Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu, Bill Clinton, sudah ingin mengakhiri konflik. Namun, ganjalan muncul dari Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Barak yang tidak mengakui adanya Yerusalem Timur sebagai calon Ibu Kota Palestina. Faktor tersebut, menurut Zuhair, menjadi kegagalan utama tercapainya kesepakatan di Camp David, AS.

“Kami terus berupaya mencapai perdamaian sesudah Perjanjian Oslo. Tapi sayangnya tidak ada perdamaian. Israel terus melakukan agresi dan okupasi. Kami ingin ada yang mengambil tindakan terhadap Israel,” tutup Zuhair al Shun.

BACA JUGA: Klaim Yerusalem Jadi Ibu Kota Israel, AS Harus Hadapi Risiko Dikucilkan

Massa Umat Islam di Bandung Bersatu dalam Aksi Damai Protes Kebijakan AS atas Yerusalem

Umat Islam di Bandung berunjuk rasa damai memprotes kebijakan AS atas Yerusalem. (Foto: Antara)

Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Duta Besar Yordania untuk Indonesia, Walid al Hadid. Ia meminta semua pihak bersatu dan melakukan sesuatu. Walid yakin Yerusalem dapat menyatukan semua orang, apabila tidak pada ranah politik, bisa saja bersatu sebagai umat manusia.

“Kita harus berupaya agar okupasi dan kolonisasi diakhiri. Ini adalah panggilan bagi kita semua. Jika tidak bisa dalam kerangka politik, setidaknya kita bersatu sebagai umat manusia. Kita harus bisa melakukan sesuatu untuk mendukung Yerusalem dan Palestina,” tukas Walid al Hadid.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini