"Saya tidak pernah menganggap bahan-bahan ini adalah sampah," Massimo mengatakan kepada kantor berita Reuters.
"Saya selalu berpikiran remah-remah roti, tomat-tomat yang sudah terlalu matang, pisang-pisang berwarna kecoklatan adalah kesempatan bagi kita. Kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa kita buat dengan kreativitas kita."
Massimo memulai proyek menggunakan kembali sisa-sisa bahan dari tempat-tempat makan di Milan International Expo. Dengan bantuan yayasan gereja, Caritas Ambrosiana, inisiatif ini menjadi proyek tetap.
Tidak seperti layaknya dapur-dapur umum amal, para tamu tidak perlu antre.
"Saya menyebutnya restoran, bukan dapur umum," kata Massimo.