DEPOK – Aksi kejahatan jalanan yang melibatkan remaja sebagai pelakunya dinilai pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global tren ini juga terjadi di negara-negara maju sekalipun.
Penyebabnya, kata dia, bisa beragam. Mulai kurangnya wadah berkegiatan bagi mereka hingga sistem dan pola asuh keluarga yang salah. Hal ini pula yang diduga terjadi kepada puluhan remaja yang nekat menjarah sebuah distro di Depok, Jawa Barat.
"Aktivitas ini diawali oleh kehadiran sekelompok orang yang memiliki komitmen untuk tergabung dalam sebuah kelompok yang difasilitasi dengan sumber daya transportasi kendaraan roda dua," ungkap Devie kepada Okezone, Selasa (26/12/2017).
Ia menambahkan, faktor terikatnya para individu tersebut secara umum ialah kebersamaan dan merasa nyaman serta nyaman dalam sebuah kelompok.
"Mereka adalah kumpulan orang yang membutuhkan kehangatan kelompok (belonging) dan merasa aman (security) di dalam sebuah kelompok. Yang memungkinkan hal tersebut terjadi ialah ketersediaan waktu untuk terus bersama-sama. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mereka adalah anak-anak muda yang tidak memiliki banyak aktivitas lain selain sekolah, ataupun pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap. Sehingga, mereka dengan leluasa terus menjalin komunikasi dan secara intensif menyusun berbagai rencana aktivitas nonkriminal maupun kriminal," jelasnya.