Image

Jadi Tahanan KPK, Peradi Masih Beri Bantuan Hukum ke Fredrich Yunadi

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Minggu 14 Januari 2018, 17:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 14 337 1844766 jadi-tahanan-kpk-peradi-masih-beri-bantuan-hukum-ke-fredrich-yunadi-4066u1VZYv.jpg Kuasa hukum Setya Novanto, Fredrich di KPK (foto: Okezone)

JAKARTA - Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) menyatakan masih memberi bantuan hukum kepada Fredrich Yunadi. Meskipun dia sudah resmi menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan merintangi proses penyidikan.

"Dalam kasus FY (Fredrich Yunadi), Peradi mendampingi proses hukum," ujar Wasekjen DPN Peradi, Rivai Kusumanegara di Kantor ICW, Jakarta Selatan, Minggu, (14/1/2018).

Diketahui, sampai saat ini, Fredrich dibela oleh Sapriyanto Refa sebagai Kuasa hukumnya. Fredrich ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK setelah tak lagi menjadi kuasa hukum terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto (Setnov).

Rivai menuturkan, proses pemeriksaan kode etik di Peradi akan berjalan seirama dengan proses pidana yang menimpa advokat berpenampilan nyentrik itu. Namun, kata Rivau, Peradi tetap menjalin komunikasi dengan lembaga antirasuah.

"Terpenting pemahaman bersama dari perkara ini. Saya pikir itu jadi titik poin. Sesegera mungkin dibangun komunikasi. Juga kami harapkan bisa berjalan linear antara proses hukum dengan etik. Saya lihat etik Peradi saat ini sangat keras," papar dia.

 (Baca juga: Peradi Dukung Langkah KPK Mengusut Penyalahgunaan Profesi Fredrich Yunadi)

(Baca juga: Tak Hanya Fredrich Yunadi, ICW Sebut 21 Advokat Pernah Terjerat Pidana Korupsi)

(Baca juga: Peringatan KPK: Advokat & Dokter Lain Jangan Halangi Penanganan Kasus Korupsi!)

Sejauh ini Peradi, kata Rivai terus mendukung langkah KPK untuk mengusut penyalahgunaan profesi yang dilakukan Fredrich Yunadi saat menjadi kuasa hukum Setnov.

"Perlu kami jelaskan, Peradi mendukung penuh proses hukum di KPK," ucap dia.

Rivai mengungkapkan, DPN Peradi sepanjang tahun 2017, telah memproses sebanyak 108 pengacara telah ditindak sendiri oleh Peradi. Pelanggaran bervariasi, mulai dari pelanggaran kode etik ringan hingga berat .

"Ini sebagai bentuk Peradi menjaga komitmennya," tutur Rivai.

Dalam hal ini, lembaga antirasuah menilai, Fredrich dan Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, Bimanesh Sutarjo telah melakukan skenario jahat untuk mengamankan Setnov ketika 'diburu' oleh KPK beberapa waktu lalu.

Kedua orang itu dinilai 'merekayasa' peristiwa kecelakaan yang dialami Setnov. Tak hanya itu, KPK menyatakan kedua orang itu telah menyewa satu lantai di RS Permata Hijau. Namun, hal itu tentu dibantah keduanya.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini