nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Istana Kepresidenan Dikepung Pasukan Separatis, PM Yaman Bersiap Angkat Kaki

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 30 Januari 2018 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 30 18 1852236 istana-kepresidenan-dikepung-pasukan-separatis-pm-yaman-bersiap-angkat-kaki-4WA58qLkIk.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

ADEN – Perdana Menteri (PM) Yaman, Ahmed Obeid bin Daghar bersiap untuk melarikan diri keluar dari Yaman setelah kelompok separatis berhasil merebut dan menguasai istana kepresidenan di kota pelabuhan itu.

BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman Dibunuh Karena Tinggalkan Houthi dan Memihak Arab Saudi

Berdasarkan keterangan pejabat Yaman yang dilansir Associated Press, Selasa (30/1/2018), pasukan yang setia kepada Majelis Transisi Selatan bertempur dan mendesak pasukan pemerintah hingga gerbang Istana Maashiq, Aden. Istana yang terletak di Distrik Crater itu adalah basis dari Pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional.

Namun, pasukan separatis yang juga dikenal dengan nama Al-Hirak, tidak memasuki istana karena dihentikan oleh pasukan Arab Saudi yang menjaganya selama beberapa bulan terakhir. Seorang pejabat senior pemerintahan Yaman mengatakan,PM Obeid dan beberapa menteri masih berada di dalam istana dan pasukan separatis belum sepenuhnya merebut lokasi itu.

Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu menolak mengatakan apakah PM Obeid akan meninggalkan Yaman atau tidak.

Pertempuran antara pasukan separatis dengan pasukan pemerintah Yaman pecah pada Minggu, 28 Januari setelah batas waktu yang ditetapkan oleh pasukan separatis untuk pengunduran diri PM Obeid dan pemerintahannya habis. Bentrokan yang terjadi sejak Minggu telah menewaskan 36 orang dan melukai 185 orang lainnya.

Pekan lalu, pimpinan pasukan separatis, Aiderous Zubeidi meminta PM Obeid untuk mengundurkan diri karena dituding telah melakukan tindak korupsi dan penyimpangan.

Kejadian ini memperlihatkan perpecahan mendalam dalam aliansi antara pemerintahan Hadi dan koalisi pimpinan-Saudi. Keduanya berperang melawan pemberontak Houthi, yang menguasai utara negara tersebut. Perang di Yaman pecah pada 2015 ketika Houthi menguasai sebagian wilayah utara setelah merebut ibu kota, Sanaa. Di dalam koalisi pimpinan Saudi, Uni Emirat Arab telah melatih dan mempersenjatai kelompok separatis sebagai oposisi terhadap Hadi yang kini berada di Arab Saudi.

BACA JUGA: Mantan Presiden Yaman, Abdullah Saleh Tewas Diberondong 35 Peluru

Keadaan ini semakin memperburuk situasi di Yaman yang telah porak-poranda dan mengalami krisis kemanusiaan parah akibat perang yang berkepanjangan. Konflik di negara itu dilaporkan telah menewaskan setidaknya 10 ribu orang dan memaksa 2 juta rakyat Yaman mengungsi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini