Tuding Pejabat Bikin Sengsara, Sopir Taksi Bunuh Diri

Febrianto, Okezone · Rabu 07 Februari 2018 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 07 18 1855842 tuding-pejabat-bikin-sengsara-sopir-taksi-bunuh-diri-3s06EVSzXR.png Deretan taksi di Kota New York (Foto: New York Post)

NEW YORK - Seorang sopir taksi di New York bunuh diri di depan Balai Kota New York. Sopir taksi itu merasa hidupnya sengsara akibat pejabat dan politisi yang tak memerhatikan nasibnya.

Pria yang diidentifikasi bernama Douglas Schifter, bunuh diri di depan gerbang balai kota New York, dengan cara menembakkan kepalanya dengan sebuah senapan.

Pria 61 tahun itu menuliskan di Facebooknya bahwa ia telah bekerja antara 100 dan 120 jam per minggu selama 14 tahun terakhir namun tetap tidak dapat memenuhi kebutuhannya.

"Saya harap dengan pengorbanan yang saya buat sekarang, pejabat memperhatikan penderitaan para sopir dan apa yang saya lakukan tidak akan sia-sia," tulisnya.

Dalam tulisannya, Schifter juga menyebut menyalahkan Wali Kota New York, Bill de Blasio, mantan wali kota Michael Bloomberg, dan Gubernur New York Andrew Cuomo karena masing-masing menghancurkan industri taksi dan menuduh orang-orang tersebut memiliki mendukung Uber.

Selain itu, Schifter juga menyalahkan perubahan pada industri taksi karena menurunkan tarif, dengan alasan bahwa ada terlalu banyak pengemudi di jalan.

Sampai akhir hayatnya, sopir taksi tersebut tak memiliki asuransi kesehatan. Bahkan dalam keluh kesahnya di Facebook, dirinya selama bekerja belasan tahun, tak mampu membayar tagihan kartu kreditnya.

Menangapi kejadian itu, Wali Kota tidak langsung menanggapi perihal tindakan dan tudingan Schifter.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan pasti di depan itu, tapi tidak, maksud saya, ini adalah tindakan tragis yang jelas mencerminkan kesedihan seseorang," tulis catatan Blasio, seperti yang dikutip dari New York Post.

Juru bicara New York State of Taxi Drivers, memberikan penjelasan dalam keterangan persnya, bahwa ada permasalahan serius bila orang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

"Jelas bahwa ada masalah serius ketika seorang pria harus mengambil nyawanya untuk membuktikan suatu hal atau mengirim pesan kepada pihak berwenang dan anggota parlemen."

Dalam dinding Facebook Schifter, ungkapan duka cita dan solidaritas banyak mengalir.

Satu orang menuliskan, "Saya juga merasakan sakitnya. Saya adalah pemilik bisnis kecil dan pernah berkecimpung di industri saya sejak 1975." (feb)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini