MUSI BANYUASIN - Bencana kabut asap 2015 lalu di Sumatra Selatan, masih membekas diingatan warga Sumatra Selatan. Bagaimana tidak, kebakaran di mana-mana, asap tebal masuk ke rumah-rumah hingga sejumlah masyarakat harus mengungsi.
Jangankan menjalankan aktifitas kerja atau sekolah, untuk bernafas saja sulit. Korban nyawa berjatuhan, rumah sakit membludak dengan pasien penderita gangguan pernafasan.
Pemerintah terpaksa membuat camp-camp pengungsian. Belum lagi fasilitas listrik, komunikasi, transportasi dan PDAM ikut terganggu, lengkap sudah penderitaan kala itu.
(Baca Juga: Komitmen Kampanye Damai di Pilkada Sumsel, Dodi-Giri: Perang Ide dan Gagasan)
Penderitaan yang lebih perih lagi dialamai oleh kawanan satwa penghuni hutan Sumatra. Mereka dihadapkan dua pilihan pahit, tetap bertahann di dalam hutan dan mati terpanggang, atau berhadapan dengan moncong senapan bila lari ke pemukiman warga.
Belum lekang dalam ingatan, saat tapir, kawanan kambing hutan, rusa, beruang dan satwa rimba lainnya berlarian masuk kampung. Bahkan Raja Rimba Sumatera juga terpaksa menampakan wujudnya hingga harus tewas ditembus 6 peluru aparat.