nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peringati Hari Perempuan Internasional, Publik di Papua Bagikan Pinang Sirih

Edy Siswanto, Jurnalis · Jum'at 09 Maret 2018 04:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 09 340 1870013 peringati-hari-perempuan-internasional-publik-di-papua-bagikan-pinang-sirih-srr9cWM5zt.jpg Peringatan Hari Perempuan Internasional di Papua. (Foto: Edy Siswanto/Okezone)

JAYAPURA – Memperingati Hari Perempuan Internasional atau Women International Day, puluhan kaum hawa di Jayapura, Papua, menggelar aksi bagi-bagi bunga dan pinang sirih. Aksi yang dipusatkan di lingkaran bawah Kota Abepura ini mengusung tema 'Stop Kekerasan Berbasis Gender'.

Aksi dilakukan dengan membentangkan spanduk tuntutan dan pembagian bunga kertas serta pinang sirih kepada para pengguna jalan raya.

Koordinator aksi Fien Yarangga mengatakan, aksi dilakukan untuk berkampanye dan mengingatkan kepada semua warga Kota Jayapura terkait pentingnya menghormati kaum perempuan sekaligus menjadi mitra dalam segala hal.

"Perempuan ada bukan untuk disakiti atau dianiaya. Dengan kesetaraan Gender, perempuan bisa melakukan apa saja pekerjaan yang normalnya dilakukan oleh pria. Perempuan adalah partner bagi kaum pria untuk melakukan apa saja," jelas Yarangga saat menggelar aksi, Kamis 8 Maret 2018.

(Baca: Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional)

Ia mengungkapkan, kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak saat ini masih marak terjadi. Kurangnya pemahaman dan sikap arogansi membuat perempuan serta anak kerap menjadi sasaran kekerasan yang berujung kriminalitas. Bahkan, hal itu timbul bisa akibat kebijakan pemerintah yang tidak memihak.

"Di Papua, kondisinya ketidakadilan dari sisi kebijakan pemerintah, misalnya kita baru saja mendengar kasus gizi buruk di Kabupaten Asmat. Ini akibat kebijakan hingga banyak warga di sana, utamanya balita, meninggal dunia. Ini tidak boleh terjadi, karena dana otsus Papua itu besar," tegasnya.

Ada lagi kasus yang baru terjadi di Kabupaten Raja Ampat. Di sana juga terdapat kasus yang mirip dengan Asmat. "Ini artinya ada yang salah dengan kebijakan pemerintah," ucapnya.

Contoh lain adalah kasus pemilikan terhadap anak didik oleh gurunya saat jam pelajaran. Yarangga menyebut kekerasan terhadap anak dan perempuan harus diantisipasi sejak dini oleh pengambil kebijakan dan semua pihak.

(Baca: Waduh! Setiap Hari, Ada Kasus Kekerasan pada Perempuan di Kota Pelajar)

"Perempuan dan anak kerap menjadi sasaran kejahatan luar biasa, misalnya ada pemerkosaan terhadap anak-anak di bawah umur, atau kasus yang pemukulan guru terhadap siswanya hingga babak belur di Manokwari, dan lainnya. Ini harus diantisipasi dengan kebijakan pemerintah, termasuk jika ada pengguna narkotika dari kalangan perempuan. Ini harus sama-sama diantisipasi," terangnya.

"Kalau semua pihak ikut menjaga keamanan perempuan dan anak, dan adanya antisipasi oleh pemerintah, maka tidak akan terjadi hal demikian," sambungnya.

Dia menegaskan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih marak, sampai dirinya bersama-sama kaum perempuan di Kota Jayapura secara spontanitas bergerak untuk melakukan kampanye tolak kekerasan terhadap perempuan berdalih gender.

"Sebenarnya ini adalah jaringan spontan terbangun. Semua perempuan yang mengetahui ini harus berbicara, jangan diam saja," ucapnya.

(Baca: Hari Perempuan Internasional, UU Penghapusan Kekerasan Seksual Harus Segera Disetujui)

Harapannya adalah pemerintah melihat mereka dan permasalahan perempuan. Lalu ada masalah lain terkait perempuan dan narkoba. Si perempuan yang menggunakan ini maka kondisi kesehatannya tidak bagus dan juga mengganggu anaknya.

Direktur LBH Apik Jayapura Nur Aida Duwila dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa terhitung Januari 2018 ada delapan kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak.

"Ada delapan kasus dan terbaru ada dua yang dilaporkan, yakni ada anak-anak yang dipaksa melakukan –maaf– onani terhadap orang dewasa, dan kasus istri yang dioles balsem –maaf– di alat vitalnya, dan kini sudah ditangani Polsek Jayapura Selatan. Ini kita kawal," paparnya.

(Baca: Hari Perempuan Internasional, AJI: Pelaku Kekerasan Seksual Dihukum Maksimal!)

"Kami sampaikan lewat kampanye ini, mari kaum perempuan yang jadi korban untuk berani melapor. Bisa lewat polisi atau orang yang paham akan masalah ini. Jangan diam saja," tegasnya.

Aksi yang dilakukan sejak sore sekira pukul 15.00 WIT tersebut menjadi perhatian pengguna jalan. Pasalnya, pembagian bunga kertas tersebut dibalut aksi kearifan lokal dengan pembagian pinang dan sirih untuk para pengguna jalan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini