Masih tentang ponsel, seperti diketahui Bima Arya disaat pertama menjabat sebagai Walikota Bogor menyebarkan nomor ponsel pribadinya ke publik. Karena itu, banyak warga yang curhat dan melaporkan pelayanan publik yang belum maksimal.
"Saya ada yang WA, bunyinya ‘Hai, ini Pak Bima yach?.’ Saya ga bales. Terus dia WA lagi ‘bales dongs.’ Pake S. Ujung-ujungnya dia WA lagi, ‘Pak saya Ani dari SD Polisi 4.’ Bayangin anak SD sudah bisa WA walikotanya. Ini sering kejadian, saya suka juga balas satu-satu,” katanya.
Tidak hanya di WA, di Twitter pun demikian. Bima Arya pernah dicaci oleh seorang warga karena listrik di wilayahnya mati. "Saya di-twit ‘Pak Walikota harus banyak kerja, tolong jangan susahkan warga. Ini Mati listrik, besok saya harus ujian.’ Begitu kata dia. Ini orang tahu ga ya urusan listrik itu urusan PLN, bukan walikota," tambahnya.
Banyak hal yang ia ceritakan Bima, termasuk menerima ratusan surat setiap harinya. Mulai surat yang berisi urusan negara, urusan Kota Bogor, sampai ke urusan percintaan. "Bahkan, ada warga yang minta dibelikan obat koreng. Artinya, apapaun tujuannya, ketika menulis untuk walikota Insya Allah nyampe ke walikota. Tapi belum tentu semua bisa terkabul," jelasnya.
Diakhir penampilannya, Bima Arya mengundang seseorang yang telah menjadi belahan jiwanya sejak belasan tahun terakhir. Sosok ini, kata Bima, setia mendampingi dirinya saat belum menjadi apa-apa. "Belum jadi walikota, belum jadi pengamat, didampingi. Ini orang luar biasa konyolnya. Mau tau orangnya yang mana? Silahkan berdiri ke sini Pak Syamsul," kata Bima,
Ya, Syamsul merupakan sopir pribadi Bima Arya sejak 13 tahun yang lalu, sepulang Bima dari menyelesaikan kuliah S3 di Australia.
"Ini kisah yang tidak pernah saya lupakan bersama Pak Syamsul. Mau pulang jam 5 sore, saya buka pintu mobil, terus saya masukin tas. Begitu mau naik dibelakang temen saya manggil. Saya tutup pintu dulu, terus ngobrol sama temen. Begitu ngobrol saya liat, kok mobil jalan. Mungkin pikir saya mau ke depan beli sesuatu," ungkapnya.
Selang 10 menit, sopir dan mobil tak kunjung datang. Bima pun mencoba untuk menghubungi Syamsul. "Pas saya telepon rupanya sudah ada di tol. Alasannya tadi kan pintu dibuka terus sudah ditutup. Biasanya kalau di tutup bapak udah di dalem, jadi berangkatlah dia," pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)