Kunjungi Sentra Penghasil Kok, Khofifah Soroti Bahan Baku Harus Diimpor dari Taiwan

Syaiful Islam, Okezone · Senin 26 Maret 2018 16:52 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 26 519 1878096 kunjungi-sentra-penghasil-kok-khofifah-soroti-bahan-baku-harus-diimpor-dari-taiwan-JPpf8dVzoV.jpg Calon gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi industri rumahan kok di Desa Sumengko, Kabupaten Nganjuk, Jatim, Senin (26/3/2018). (Foto: Syaiful Islam/Okezone)

SURABAYA – Calon Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, terus terjun ke masyarakat. Kali ini wilayah yang dikunjungi mantan Menteri Sosial tersebut adalah industri rumahan di kampung penghasil shuttlecocks atau kok yang digunakan dalam pertandingan olahraga bulutangkis, Desa Sumengko, Kabupaten Nganjuk.

Khofifah ingin melihat langsung proses pembuatan kok. Mantan anggota DPR RI ini juga sempat ikut membuat kok. Ia juga sempat berbincang dengan sejumlah pekerja dan pemilik industri rumahan pembuat kok.

"Kebutuhan tenaga kerja di sini tinggi bahkan sampai kekurangan. Kalau di tempat lain itu kekurangan lapangan kerja di sini malah kelebihan lapangan kerja. Menurut saya ini informasi mahal," terang Khofifah, Senin (26/3/2018).

Meski begitu, Khofifah menyoroti bahan baku kok tersebut. Usaha di kampung ini 100 persen impor dari Taiwan. Bulu kok yang digunakan adalah bulu bebek peking.

Bulu tersebut yang memiliki kualifikasi untuk permainan bulutangkis internasional. Namun, pengusaha di sana mengeluhkan adanya rantai yang panjang untuk mendapatkan bulu itu.

"Seharusnya bahan baku bulu itu bisa swasembada dari nasional. Terlebih dengan hobi masyarakat Indonesia yang hobi kuliner. Rekomendasi mereka kalau bisa dilakukan budidaya dengan format bebek peking dalam jumlah besar," ungkapnya.

Menurut Khofifah, masyarakat di sini yang hobi kulineran pasti bisa mandiri dengan menghasilkan bulu untuk industri kok. Selain bahan baku, ia juga menyoroti masalah siklus penjualan kok.

Selama tujuh bulan di musin hujan selalu produksi dengan sistem stok untuk demand di bulan Mei, Agustus, dan akhir tahun. Siklus penjualan kok terbilang unik dan kurang dinamis.

(Calon gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Paranwansa saat mengunjungi industri rumahan kok di Desa Sumengko, Kabupaten Nganjuk, Jatim, Senin, 26 Maret 2018. Foto: Syaiful Islam/Okezone)

Sebab demand hanya naik drastis di saat turnamen dan saat media gencar memberitakan tentang dunia bulutangkis. Pemerintah harus memberikan format pendampingan yang bisa mendukung keuangan yang stagnan pada usaha ini.

"Karena selama tujuh bulan mereka produksi bisa laku habis dalam beberapa hari baru di bulan Mei dan Agustus tersebut," tukasnya.

(Baca Juga: Khofifah Janji Kesejahteraan Guru Pesantren Akan Terjamin)

Sementara itu, pemilik usaha kok UD Mustika, Ngalimun, mengatakan suplai bahan baku memang menjadi permasalahan. Ia harus impor dari Taiwan dan diolah di Nganjuk.

"Yang putih dan memenuhi standar itu dari bebek peking. Lalu kita potong dengan mesin agar ukurannya seragam. Kelangkaan tenaga kerja memang benar terjadi. Ini karena yang dipekerjakan adalah ibu-ibu rumah tangga," papar Ngalimun.

Sebab dirinya memang tidak merekrut tenaga kerja muda karena tidak sanggup memberikan gaji sesuai UMK Nganjuk. Pihaknya berharap jika Khofifah jadi Gubernur bisa memperhatikan usaha rumahan kok agar tetap hidup.

(Baca Juga: Muslimat NU Gresik Doakan Gus Ipul Jadi Gubernur Jatim)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini