nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa China Makin Dekat, Indonesia Perlu Waspada?

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Sabtu 31 Maret 2018 12:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 31 18 1880351 jatuhnya-stasiun-luar-angkasa-china-makin-dekat-indonesia-perlu-waspada-exhwWpzv2R.jpg Ilustrasi Tiangong-1 (Foto: Business Insider)

BEIJING – Serpihan dari stasiun luar angkasa milik China, Tiangong-1, sudah semakin dekat dengan atmosfer bumi. Otoritas China kini sedang berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna melakukan antisipasi terkait jatuhnya Tiangong-1.

Menurut perkiraan, serpihan dari Tiangong-1 akan memasuki atmosfer bumi pada akhir pekan ini. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui di mana serpihan itu akan jatuh. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang menuturkan, pemerintah secara kontinyu memberi informasi kepada PBB.

“Kami secara kontinyu memberikan informasi terbaru kepada badan antariksa PBB. China akan bertanggung jawab dan bertindak dengan transparan,” ujar Lu Kang, melansir dari News.Com.Au, Sabtu (31/3/2018).

“Jika diperlukan, kami akan langsung menghubungi negara-negara yang relevan. Menurut informasi terakhir yang saya dengar, kemungkinan fragmen jatuh dalam jumlah besar ke daratan sangat kecil,” imbuh Lu Kang.

BACA JUGA: Ilmuwan Jamin Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa China Tidak Membahayakan Bumi

Stasiun luar angkasa tanpa awak berukuran panjang 10,4 meter (m) itu pertama kali mengorbit pada 2011. Tiangong-1 diluncurkan dengan misi utama sebagai stasiun luar angkasa permanen yang mengorbit bumi pada 2023. Tugasnya sendiri berakhir pada 16 Maret 2016 dan ilmuwan beberapa waktu lalu memastikan jatuhnya Tiangong-1 kemungkinan besar ke lautan.

Pakar luar angkasa China, Pang Zhihao menuturkan, sesuai tradisi yang berlaku secara internasional, biasanya bekas benda luar angkasa yang berada di orbit dekat bumi dibiarkan jatuh hingga dasar lautan di Samudera Pasifik yang jauh dari daratan.

Rentang orbit stasiun luar angkasa itu berada pada kisaran 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan. Itu berarti orbitnya membentang luas di kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, China, Timur Tengah, Afrika, Australia, sebagian Eropa, Samudera Pasifik, dan Samudera Pasifik.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengatakan, jatuhnya Tiangong-1 tidak dapat dicegah. Akan tetapi, ia meminta agar media dan pengamat tidak berandai-andai yang justru dapat meresahkan masyarakat.

Thomas Djamaluddin menuturkan, jatuhnya pesawat atau stasiun luar angkasa telah beberapa kali terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Kalau pun nanti di wilayah Indonesia, ia memperkirakan jatuhnya Tiangong-1 di kawasan tidak berpenghuni karena wilayah pemukiman Indonesia jauh lebih kecil daripada luas lautan, hutan, dan gurun.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini