nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Keliling Dunia, Kapal Penyapu Ranjau Swiss Singgah di Jakarta

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 04 April 2018 13:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 04 18 1881968 keliling-dunia-kapal-penyapu-ranjau-swiss-singgah-di-jakarta-KHHjUYFgfe.jpeg Kapal penyapu ranjau berbendera Swiss, Fleur de Passion, singgah di Jakarta (Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)

JAKARTA – Kapal penyapu ranjau berbendera Swiss, Fleur de Passion, singgah di Jakarta. Kapal bekas Perang Dunia II itu membuang sauh di Indonesia pada 3-12 April dalam rangka napak tilas 500 tahun penjelajahan Ferdinand Magellan, pelaut asal Portugal, untuk memetakan laut di seluruh dunia.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Bauman mengatakan, kapal Fleur de Passion mengemban misi penelitian untuk sains, pendidikan, dan juga pemetaan laut. Ia sendiri mengaku terkejut Swiss mempunyai kapal yang mampu berlayar begitu jauh mengingat negaranya tidak sama sekali memiliki garis pantai.

“Saya sangat terkejut karena seperti yang Anda tahu Swiss dikelilingi daratan. Kemampuan berlayar kapal-kapal Swiss tidak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia yang memiliki garis pantai yang cukup panjang,” ujar Yvonne Baumann dalam sambutannya di atas kapal Fleur de Passion di Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2018).

“Lebih dari sekedar berlayar, Fleur de Passion juga membawa misi untuk sains, pendidikan, dan juga pemetaan laut. Hal ini dilakukan karena Swiss begitu perhatian pada kekayaan laut,” imbuh mantan diplomat Swiss untuk Chile itu.

(Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumann; Wakil Presiden Pacifique Foundation, Samuel Gardaz; dan Kapten Kapal Fleur de Passion, Pere Valera Taltavull)

Fleur de Passion berlayar atas prakarsa Yayasan Pacifique Foundation. Wakil Presiden Pacifique Foundation, Samuel Gardaz menerangkan, kapal tersebut awalnya digunakan untuk menyapu ranjau laut pada masa Perang Dunia II. Aktivitas kapal berubah menjadi misi pelayaran pada dekade 1970.

Selepas dekade 1990, Fleur de Passion mangkrak di wilayah selatan Prancis. Perwakilan dari Pacifique Foundation lantas menemukannya dan memutuskan untuk merenovasi kapal sepanjang 33 meter (m) itu.

“Ketika ditemukan, kondisi kapal cukup buruk. Pihak yayasan memutuskan untuk merenovasi sebagian besar badan kapal. Selain itu, kapal juga diubah dari penyapu ranjau menjadi perahu layar. Renovasi tersebut berjalan selama 6,5 tahun dari 2003-2009 dan diawasi langsung oleh pihak-pihak di Jenewa, Swiss,” ujar Samuel Gardaz.

Ia menambahkan, renovasi berlangsung cukup lama karena banyak yang harus dikerjakan. Sejak 2009, kapal lantas dikerahkan untuk navigasi ke Samudera Pasifik. Pada 2013-2014 diputuskan bahwa kapal akan digunakan untuk proyek yang lebih besar yakni, pemetaan laut.

“Dalam bahasa Prancis, Pacifique selain berarti Samudera Pasifik, juga berarti perdamaian. Itu misi yang kami bawa dan penting untuk disebutkan,” ucap pria asal Prancis itu.

Pelayaran Fleur de Passion dimulai dari Sevilla, Spanyol, pada 13 April 2015. Rute pelayaran pun mengikuti rute yang ditempuh oleh Ferdinand Magellan dulu, yakni lewat Afrika menuju Benua Amerika lantas menyeberangi Samudera Pasifik hingga ke Australia dan akhirnya singgah di Indonesia.

“Kami masih dua pertiga perjalanan. Masih ada 17 bulan lagi setelah lepas dari Jakarta. Kita tiba dari Singapura, setelah ini menuju Madagaskar, Mozambik, Afrika Selatan, dan kembali ke Sevilla. Kami diperkirakan tiba pada 10 Agustus 2019, sedikit lebih cepat dari jadwal, namun tetap bertepatan dengan 500 tahun ekspedisi Magellan,” tukas Samuel Gardaz.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini