Menlu Rusia: Sergei Skripal Tidak Diracun dengan Novichok

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Minggu 15 April 2018 18:04 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 15 18 1886913 menlu-rusia-sergei-skripal-tidak-diracun-dengan-novichok-fmkNvSQAuf.JPG Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov (Foto: Remo Casilli/Reuters)

MOSKOW – Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergey Lavrov mengatakan, zat yang digunakan untuk meracuni mantan agen mata-mata Sergei Skripal di Salisbury, Inggris, bisa saja adalah BZ yang tidak pernah diproduksi di Uni Soviet. Zat tersebut disebutnya bisa saja disimpan di Inggris atau Amerika Serikat (AS).

Lavrov menerangkan, para ahli di laboratorium yang berbasis di Spiez, Swiss, telah menganalisa sampel dari zat yang digunakan untuk meracuni Skripal. Menurut laporan yang diterbitkan pada 27 Maret, bukti-bukti yang ada menunjukkan BZ bisa saja disimpan di Inggris atau AS.

“Formulasi ini adalah penemuan dari AS, Inggris, dan negara-negara NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) lainnya,” ujar Sergey Lavrov, dinukil dari Reuters, Minggu (15/4/2018).

BACA JUGA: PM Inggris: Mantan Mata-Mata Rusia Diberi Racun Novichok

Sebelumnya, Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengonfirmasi racun yang digunakan adalah Novichok dalam jenis yang murni. Temuan tersebut menguatkan klaim dari Inggris yang mengatakan bahwa Rusia kemungkinan besar berada di balik peracunan Sergei dan Yulia Skripal.

Lavrov menguraikan, laporan dari laboratorium di Swiss itu tidak menyebutkan secara spesifik nama racun yang digunakan, seperti misalnya Novichok. Akan tetapi, mereka menyebut zat tersebut sudah dikembangkan oleh banyak negara.

“Kami, seperti Anda ketahui, memiliki kemampuan untuk menerima informasi rahasia. Dan karena informasi ini menyangkut hidup dan mati, kami tidak akan membuatnya tetap menjadi informasi rahasia,” imbuh Sergei Lavrov.

BACA JUGA: Mantan Mata-Mata Rusia Terkena Racun di Pintu Rumahnya

BACA JUGA: OPCW Konfirmasi Penemuan Inggris Tentang Racun yang Digunakan pada Skripal

Ia mengatakan, laboratorium tersebut juga mengidentifikasi adanya cairan A-234 dalam konsentrat yang tinggi, yang diketahui sebagai Novichok. Konsentrat yang tinggi itu menurutnya sudah pasti akan membunuh Sergei Skripal dalam waktu dekat.

“Mengingat tingginya (A-234), identifikasi zat peracunan ini dalam keadaan awalnya dan dalam konsentrat yang tinggi oleh spesialis di Spiez tampaknya sangat mencurigakan,” tutup Sergei Lavrov.

Sebagaimana diberitakan, Sergei dan Yulia Skripal ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di Salisbury, Inggris, pada 4 Maret. Peracunan kedua orang itu memanaskan hubungan diplomatik Rusia dengan Inggris yang berujung pengusiran puluhan diplomat asing dari masing-masing negara.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini