Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nostalgia Taman Ria Senayan yang Tinggal Kenangan

Puteranegara Batubara , Jurnalis-Sabtu, 21 April 2018 |10:01 WIB
Nostalgia Taman Ria Senayan yang Tinggal Kenangan
Kawasan Taman Ria Senayan akan dibangun mal (dok. Okezone)
A
A
A

"PERNAH aku melihat musik di Taman Ria iramanya Melayu duhai sedap sekali,"

Penggalan lagu 'Terajana' yang dilantunkan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama itu merupakan salah satu nostalgia yang mengingatkan tempat hiburan Taman Ria Senayan. Lagu itu sendiri terinspirasi dari gemerlapnya tempat rekreasi yang ada di tengah kota.

Taman Ria Senayan merupakan tempat favorit para kawula muda menghabiskan waktu. Mencari inspirasi, berkumpul bersama keluarga dan memadu kasih dengan pasangan, menjadi tujuan awal ketika hendak menuju tempat wisata yang berada di Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat.

Pada 1970, tempat itu dikenal dengan nama Taman Ria Remaja. Seiring perkembangannya, di tahun 1990-an, namanya diubah menjadi Taman Ria Senayan. Lokasinya tepat bersebelahan dengan Gedung DPR/MPR RI. Lokasi wisata itu menjadi favorit dari generasi tahun 70 dan 80-an dengan menawarkan beberapa permainan.

Paling melekat diingatan masyarakat adalah Kincir Ria atau wahana berbentuk roda besar yang berputar sehingga bisa melihat keindahan kelap-kelip lampu Ibu Kota dari lokasi yang tinggi. Momen romantis yang bisa dinikmati bersama orang terkasih.

Nostalgia indahnya Taman Ria Senayan itu, pun masih melekat di benak Ali Akbar (54), yang masa mudanya kerap menghabiskan waktu ke tempat tersebut.

Kenangan Ali pertama kali menginjakan kaki ke Taman Ria pun tak bisa dilupakan. Padahal, itu sudah 44 tahun lamanya. Ketika itu dia masih duduk di sekolah dasar.

"Pertama kali menginjak Jakarta tahun 1974, saya ajak kakak saya ke Taman Ria Remaja atau Taman Ria Senayan," kata Ali yang antusias ketika diminta mengingat kenangannya di Taman Ria Senayan.

Ali kecil sampai sekolah menengah pertama memang dihabiskan di Kota Medan, Sumatera Utara. Setelah ke Ibu Kota, dia langsung memiliki niat untuk menjajal kemeriahan di Taman Ria.

Apalagi, nama Taman Ria sendiri sudah tersiar ke telinga masyarakat di tanah Batak. Sebab itu, tak sedikit warga dari daerah yang main di Jakarta, akan melangkahkan kakinya ke Taman Ria, karena ketenarannya.

"Maklumlah, kala itu, di kampung saya Kota Medan, keberadaan taman yang lokasinya di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan ini, begitu kesohor. Setiap saudara atau teman yang ke Jakarta pasti ke tempat ini," tutur Ali yang kerap tersenyum ketika mengenang masa mudanya tersebut.

Selain menjadi tempat nongkrong kawula muda, Taman Ria juga menjadi tempat untuk mencari ketenangan. Dikelilingi danau, ditemani pohon rimbun disertai angin sepoi-sepoi, Taman Ria menjadi tempat refleksi pikiran dan jiwa dibalik ramainya Ibu Kota DKI Jakarta ketika itu.

Saat waktu libur sekolah, Taman Ria pun semakin ramai didatangi generasi 70 dan 80-an. Wahana permainan dan aliran danau menjadi tempat favorit.

Kawasan danau di Taman Ria banyak diisi oleh pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara. Rindangnya pohon dan angin berhembus tenang menjadi saksi bisu kemesraan pasangan tersebut.

"Di tempat itu duduk di atas rumput dipinggir danau diterpa angin yang datang dari kerindangan pohon. Untuk sejenak pikiran menjadi tenang," kenang Ali.

Banyak alasan untuk menuju Taman Ria Remaja di kala itu. Letaknya yang strategis dan mudah terjangkau menjadi salah satu candu untuk menuju ke tempat itu.

Di zaman itu, beberapa tempat hiburan memang sudah berdiri, antaranya Dunia Fantasi (Dufan). Masyarakat pun banyak yang berekreasi ke tempat itu. Tetapi, jaraknya cukup jauh, karena berada di Ancol, Jakarta Utara. Sehingga, perlu merogoh kocek banyak untuk menuju Dufan.

Taman Ria Senayan pun jadi alternatif masyarakat yang enggan ke Dufan karena lokasinya jauh. Selain itu, biaya masuk Taman Ria juga lebih murah dibandingkan Dufan. Dengan harga Rp100 sampai Rp500 saat itu, sudah bisa menikmati hiburan di Taman Ria.

Daya tarik Taman Ria lainnya yakni penampilan grup Srimulat. Kelompok pelawak itu tak pernah absen mengocok perut masyarakat di Taman Ria pada hari Sabtu dan Minggu.

Awal karir dari grup Srimulat yang melahirkan beberapa nama pelawak besar, seperti Tarzan, Basuki, Thukul, Nunung, Kadir, Polo, Gogon dan (Alm) Gepeng itu memang dimulai dari Taman Ria.

Dengan bermodalkan panggung dan peralatan seandanya, grup lawak ini mencoba menghibur masyarakat kala itu dari semrawutnya Ibu Kota. Mereka kerap tampil pada malam hari. Bahkan, kalimat 'untung ada saya' dari (Alm) Gepeng Srimulat pun lahir dari situ.

Saat weekend tiba, masyarakat tak pernah absen untuk menonton lakon lucu grup Srimulat. Mereka rela datang dari sore hari, demi mendapatkan kursi paling depan untuk menonton Tarzan Cs itu.

"Tempat ini (Taman Ria) sangat berkesan bagi saya, juga bagi remaja dan anak-anak muda seperti saya kala itu," kata Ali dengan raut sedih lantaran semua itu tinggal kenangan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement