Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berakhirnya 'Drama' Penyanderaan di Mako Brimob

Antara , Jurnalis-Kamis, 10 Mei 2018 |10:22 WIB
Berakhirnya 'Drama' Penyanderaan di Mako Brimob
Polisi berjaga-jaga di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok usai kerusuhan (Antara)
A
A
A

JAKARTA - Negosiasi menjadi kata yang tak habis-habisnya disampaikan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto dan Karopenmas Polri Brigjen M Iqbal ketika menyampaikan perkembangan penanganan kerusuhan di Mako Brimob sejak Selasa 8 Mei malam.

Akhirnya pada Kamis (10/5/2018) pagi, Menko Polhukam Wiranto dan Wakapolri Komjen Syafruddin mengakhiri pemakaian kata-kata negosiasi tersebut. Wiranto menyebutnya ultimatum, bukan negosiasi. Sedangkan Syafruddin menegaskan berkali-kali jangan lagi menggunakan istilah negosiasi.

Operasi penanggulangan selama 36 jam sejak kejadian dinyatakan berakhir pada Kamis pukul 07.15 WIB oleh Wakapolri. Sementara Wiranto pun menyampaikan keterangan resmi pemerintah dalam penanggulangan masalah tersebut.

Kerusuhan antara tahanan teroris dari Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Salemba Cabang Rutan di Mako Brimob yang hanya dipicu dari soal sepele saat pemeriksaan makanan oleh petugas telah menelan sembilan orang anggota polisi, yng lima di antaranya gugur dalam tugas, serta satu orang tahanan teroris.

 

Polisi memantau sekitar Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok (Antara)

Syafruddin menyebut korban dari polisi sebanyak sembilan orang, yang lima orang di antaranya gugur dalam tugas, sedangkan empat orang lainnya luka-luka.

Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto dari Densus 88, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi dari Polda Metro Jaya, Brigadir Pol Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho dari Densus 88, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli dari Densus 88, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas dari Densus 88, gugur dengan luka-luka di sekujur tubuh mereka.

Sedangkan empat polisi yang terluka diantaranya Bripka Iwan Sarjana yang berhasil dievakuasi setelah disandera oleh tahanan.

Sementara Menkopolhukam menyebutkan dari 156 tahanan teroris yang terlibat, satu orang meninggal dunia dalam bentrokan dengan polisi pada Selasa malam sedangkan 155 orang lainnya menyerahkan diri tanpa syarat setelah aparat keamanan memberikan ultimatum untuk menyerah tanpa syarat atau melawan dengan segala risikonya.

 

Polisi berjaga di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok (Antara)

Wiranto juga mengungkapkan dari 155 orang yang menyerahkan diri tanpa syarat itu semula ada 145 yang langsung menyerahkan diri sedangkan 10 mencoba melawan tetapi setelah dilakukan tindakan maka mereka semuanya menyerahkan diri tanpa syarat.

Tak ada tahanan yang terluka dalam penanggulangan kerusuhan tersebut, kata Syafruddin. Hal itu merupakan keberhasilan dari pendekatan lunak (soft approach) yang dilakukan aparat keamanan dalam menghadapi dan menanggulangi teroris.

Para tahanan yang menyerahkan diri itu akan dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan lain, termasuk ke Nusakambangan sebagai salah satu opsinya.

Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami juga telah menyatakan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan siap menampung para tahanan teroris itu dengan tempat atau sel yang mencukupi jumlahnya.

(foto Antara)

Wiranto juga menyampaikan bahwa pelaku kerusuhan adalah penindak terorisme dalam tahanan. Seharusnya mereka sadar atas perbuatan sebelumnya yang membuat mereka dihukum dan dipenjara, insyaf atas perbuatan, tetapi mereka justru melakukan kekejaman dengan merampas senjata, melakukan aksi penyanderaan, menyiksa, bahkan membunuh dengan keji terhadap aparat kemanan yang bertugas di rumah tahanan itu.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement