HARI ini 20 tahun silam, empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta Barat gugur ditembak aparat keamanan dan puluhan lainnya luka-luka akibat dipukul serta diterjang peluru saat berunjuk rasa menuntut reformasi. Tragedi berdarah 12 Mei 1998 di depan Kampus Trisakti, titik penting dalam sejarah menumbangkan pemerintah otoriter Orde Baru.
Empat mahasiswa Trisakti yang gugur adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka mengorbankan nyawa demi mewujudkan demokrasi yangdikekang penguasa Orde Baru Soeharto dengan berbagai jargon. Kelak keempat aktivis itu dikenal sebagai Pahlawan Reformasi.
Tapi, dua dasawarsa berlalu peristiwa itu meninggalkan noda hitam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sampai kini belum tuntas diungkap; siapa pelaku dan dalang di balik pembunuhan, penculikan aktivis reformasi? Kapan mereka diadili?
Aksi demo menumbangkan Soeharto yang sudah 31 menguasai Indonesia dengan membungkam suara-suara kritis dan membelenggu pers dimulai dari daerah-daerah. Para aktivis dan mahasiswa di Jakarta juga tak diam, mereka turun ke jalan menuntut perubahan untuk Indonesia tercinta.
Pada 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Trisakti berunjuk rasa di depan kampusnya. Sekira pukul 11.00 WIB, demo makin panas. Mereka memblokir ruas jalan depan kampus. Gemuruh yel-yel dan teriakan revolusi mewarnai demo. Polisi dan serdadu dikerahkan untuk mengawal aksi massa.