Image

Alasan Jaksa Tuntut Mati Aman Abdurahman

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 12:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 05 18 337 1899789 alasan-jaksa-tuntut-mati-aman-abdurahman-yqi1d3kc2x.jpg Aman Abdurahman dikawal polisi saat di PN Jakarta Selatan (Antara)

JAKARTA – Terdakwa dalang bom Thamrin, Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurahman dituntut hukuman mati karena dinyatakan terbukti jadi penggerak aksi teror di Indonesia. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan bahwa Aman orang yang harus bertanggung jawab di balik beberapa teror.

Jaksa menyebutkan bahwa Aman merupakan penggagas, pembentuk dan pendiri Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang diklaim sebagai teroris berafiliasi ke ISIS. Menurut Jaksa, organisasi tersebut secara nyata menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Terdakwa adalah penganjur, penggerak kepada pengikutnya untuk melakukan jihad, amaliyah teror, melalui dalil-dalilnya sehingga menimbulkan banyak korban," kata JPU Anita saat membacakan amar tuntutan di depan majelis hakim di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5/2018).

Menurut jaksa, dalam setiap aksi didalangi Aman mengakibatkan banyak korban meninggal dan korban luka berat. Bahkan menghilangkan masa depan seorang anak-anak.

Sidang Aman Abdurahman (Putera/Okezone)

Aman Abdurahman dinyatakan dengan sengaja menyebarkan pemahaman radikalnya melalui tulisan yang disebarkan lewat internet yang bisa diakses secara bebas oleh masyarakat dan pengikutnya.

JPU dalam amar tuntutannya memohon majelis hakim agar "menjatuhkan pidana Aman Abdurahman dengan pidana mati."

Jaksa menyatakan Aman terbukti melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6, subsider Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Kemudian Pasal 14 juncto Pasal 7 subsider Pasal 15 juncto pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Hal yang memberatkan tuntutan Aman di antaranya dia merupakan residivis dalam kasus terorisme yang membahayakan kehidupan kemanusiaan. "Sedangkan hal meringankan kami tidak menemukan," ucap JPU Anita.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini