"Tidak boleh diikuti oleh remaja yang lain," imbuhnya.
Penyidik Polda Metro Jaya sedang memeriksa remaja berinisial SS (16) yang nekat mengancam akan menembak Presiden Jokowi. Hasilnya, pelaku mengakui bahwa video itu dibuat di sekolahnya oleh teman-temannya sebanyak lima orang dengan tujuan mengetes polisi.

Kak Seto mengatakan, kontrol dari keluarga dan guru-guru di sekolah amat penting untuk melindungi anak dari efek negatif pergaulan dan hal-hal lainnya. Pasalnya, anak seusia itu sedang giat menyalurkan kreativitas atau keberaniannya, meskipun dengan cara yang salah.
"Kontrol dalam bentuk komunikasi yang efektif di rumah ataupun di sekolah mohon ditingkatkan sehingga anak tidak lepas kendali atau liar," pungkasnya.