nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Afsel Akan Sahkan UU untuk Sahkan Perampasan Tanah Petani Kulit Putih

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 01 Agustus 2018 14:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 01 18 1930328 afsel-akan-sahkan-uu-untuk-sahkan-perampasan-tanah-petani-kulit-putih-6ndMmMiJVn.jpg Foto: AFP.

CAPE TOWN - Presiden Afrika Selatan (Afsel), Cyril Ramaphosa mengatakan, partai berkuasa, Kongres Nasional Afrika (ANC) harus memulai proses parlemen untuk memasukkan amandemen mengenai perampasan tanah pertanian warga kulit putih tanpa pemberian kompensasi ke dalam undang-undang.

Ramaphosa telah menjanjikan untuk mengembalikan tanah yang dimiliki oleh petani kulit putih sejak 1600-an kepada warga kulit hitam Afrika Selatan sejak dia menjabat pada Februari tahun ini. Dia mengatakan, ANC akan memperkenalkan amandemen konstitusi ini di parlemen.

BACA JUGA: Afrika Selatan Diambang Kerusuhan Rasis

"ANC akan melalui proses parlemen menyelesaikan amandemen yang diusulkan untuk konstitusi yang menguraikan lebih jelas kondisi-kondisi di mana pengambilalihan lahan tanpa kompensasi dapat dilakukan," kata Ramaphosa dalam pidato televisi yang dilansir RT, Rabu (1/8/2018).

Mantan pengusaha itu mengatakan bahwa rakyat Afsel ingin agar undang-undang yang diusulkan lebih jelas mengatur hal ini. Warga minoritas kulit putih melihat usulan tersebut sebagai pengusiran paksa yang dapat menimbulkan kekerasan terhadap para petani.

Ada kekhawatiran yang terus tumbuh mengenai dampak dari perampasan ini yang akan menimbulkan dampak besar pada pertanian komersial Afsel dan membuat negara itu mengalami krisis produksi pangan. Hal itu terjadi pada Zimbabwe yang menerapkan undang-undang serupa terhadap petani kulit putih pada 1999-2000.

Saat mempromosikan rencananya untuk meningkatkan pembagian tanah pada Maret lalu, Ramaphosa berusaha untuk meyakinkan warga kulit putih, yang berjumlah sekira sembilan persen dari total penduduk Afsel, bahwa pemerintah akan menangani masalah kontroversial ini melalui "dialog, diskusi, keterlibatan, sampai kita menemukan solusi yang baik yang dapat memajukan negara kita. "

"Tidak ada alasan bagi siapa pun dari kita untuk panik dan mulai memukul genderang perang," kata Ramaphosa saat itu. Dia juga mengatakan, pertanian akan berjalan dengan normal.

BACA JUGA: Praktik Apartheid Masih Dijalankan di Afsel

Meski begitu, banyak di antara kaum Boer, keturunan pemukim Belanda di Afsel tidak mempercayai kata-kata pemerintah. Mereka mulai mencari suaka di luar negeri dengan alasan meningkatnya kekerasan dan permusuhan pemerintah Afsel terhadap mereka.

Selain Australia yang telah mendorong dikeluarkannya visa bagi para pencari suaka itu, Rusia juga menjadi negara tujuan bagi para Boer. Mereka telah mengirimkan delegasi ke wilayah Stavropol, Rusia pada Juli dan meminta pemerintah setempat memberikan izin bermukim bagi 15.000 petani Boer.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini