Share

Korea Utara Bebaskan Turis Jepang yang Ditahan Atas Dasar Kemanusiaan

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 27 Agustus 2018 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 27 18 1941875 korea-utara-bebaskan-turis-jepang-yang-ditahan-atas-dasar-kemanusiaan-WwzUtBeWDG.jpg Foto: Reuters.

PYONGYANG – Pemerintah Korea Utara menyatakan bahwa mereka membebaskan seorang turis asal Jepang yang ditahan Pyongyang atas dasar kemanusiaan. Turis bernama Tomoyuki Sugimoto itu ditahan bulan ini saat bersama kelompok turnya di Nampo, pantai barat Korea Utara.

BBC, Senin (27/8/2018) melaporkan, pihak berwenang Korea Utara mengatakan pria berusia di akhir 30-an tahun itu telah melanggar hukum, tetapi tidak menjelaskan lebih detail lagi, sementara media Jepang berspekulasi bahwa Sugimoto mungkin telah memfilmkan fasilitas militer Korea Utara.

BACA JUGA: Korut Rilis Rekaman Mahasiswa AS Cabut Paksa Spanduk

Para turis yang mengunjungi Korea Utara dipantau secara ketat sepanjang waktu. Pyongyang juga diketahui telah memenjarakan turis sebelumnya, di antaranya adalah warga Amerika Serikat (AS), Otto Warmbier yang dipenjara setelah mencuri poster propaganda.

Warmbier dibebaskan pada Juni lalu atas dasar kemanusiaan, namun tiba di AS dalam kondisi kritis dan meninggal beberapa hari kemudian.

Kantor berita Korea Utara, KCNA menyebutkan bahwa Sugimoto telah “diawasi di bawah kontrol institusi yang relevan untuk diinterogasi mengenai kejahatannya yang melanggar hukum”. Namun para pejabat Korea Utara telah memutuskan untuk "memaafkan” Sugimoto dan memulangkannya atas dasar prinsip kemanusiaan.

Tidak disebutkan kapan Sugimoto akan dibebaskan, tetapi biasanya tidak akan lama setelah pernyataan seperti itu disampaikan.

BACA JUGA: Penjelasan Dokter atas Kondisi Mahasiswa AS yang Dibebaskan Korut

Jepang dan Korea Utara tidak memiliki hubungan diplomatik. Hubungan kedua negara juga tidak akur, terutama setelah wilayah udara Jepang berulangkali menjadi perlintasan rudal-rudal uji coba Korea Utara.

Beberapa warga negara Jepang telah diculik sejak 1970-1980-an dan dibawa ke Korea Utara untuk melatih para personel negara terisolasi itu mengenai bahasa dan budaya Jepang.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini