nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polda Sumut Gerebek Rumah Aborsi, Dua Pelaku Ditangkap

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Kamis 30 Agustus 2018 20:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 08 30 340 1943807 polda-sumut-grebek-rumah-aborsi-dua-pelaku-ditangkap-vsydM7YBvj.jpg ilustrasi

MEDAN – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara, melakukan penggrebekkan terhadap sebuah rumah di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Sitirejo, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan. Rumah tersebut digrebek karena patut diduga dijadikan lokasi tempat praktik pengguguran kandungan (aborsi).

Plh Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, AKBP MP Nainggolan menyebutkan, dari penggrebekkan itu, penyidik berhasil menangkap dua orang yang patut diduga terlibat dalam praktek aborsi. Keduanya yakni NFT alias T (69) dan KFS (21).

NFT merupakan pemilik rumah yang berperan sebagai eksekutor aborsi, sementara Tika merupakan warga Kelurahan Rimbo, Kecamatan Muara Tebo, Jambi, yang diduga merupakan pasien yang akan menggugurkan kandungannya.

“Penangkapan ini berawal dari informasi yang disampaikan masyarakat, yang mengaku resah dengan praktek aborsi di tempat itu. Saat kita telusuri, ternyata benar sehingga kita langsung melakukan penggrebekkan. Saat kita grebek, NFT sedang melakukan tindakan medis terhadap KFS yang tengah hampil empat bulan," kata Nainggolan, Kamis (30/8/2018).

Selain kedua pelaku, Polisi kata Nainggolan, juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai Rp.5 Juta, satu unit tempat tidur pasien, satu bantal, satu lembar perlak, satu potong kain sarung, satu unit tiang infus, satu fles infus dextrose bekas, dan tiga ampul pitogen yang masih berisi.

"Para pelaku dan barang bukti tersebut kemudian dibawa ke Polda Sumut," jelasnya.

Dari pemeriksaan sementara, terang Nainggolan, diketahui bahwa praktik aborsi yang dilakukan pelaku NFT sudah dilakukan sejak tahun 2012 lalu. Lebih dari 5 pasien aborsi sudah ditangani NFT dengan upah masing-masing pasien sekira Rp.6 juta.

“Atas perbuatannya, pelaku kita jerat dengan dengan Pasal 194 jo Pasal 75 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang UU Kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun dan denda Rp1 Milliar. Dan juga dikenakan Pasal 86 jo Pasal 46 Ayat 1 UU. RI No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dengan ancaman denda Rp100 Juta," tandasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini