DUA kelompok besar peserta pemilu di Irak, Sabtu (8/9/2018), menyerukan kepada Perdana Menteri Haider al-Abadi agar mengundurkan diri.
Desakan agar al-Abadi mundur muncul setelah DPR mengadakan sidang darurat membahas kerusuhan di Basra yang menewaskan setidaknya 12 orang tewas dalam beberapa hari terakhir. Kerusuhan berawal dari unjuk rasa yang memprotes layanan masyarakat yang buruk, tingkat pengangguran yang tinggi dan korupsi.
“Kami menuntut pemerintah agar minta maaf dan segera mengundurkan diri,” kata Hassan al-Aqouili, sekretaris jenderal Koalisi Sairoon mengatakan setelah sidang darurat itu.
Koalisi itu terdiri dari Koalisi Penaklukan dan Sairoon, dua pemenang pemilihan anggota DPR belum lama ini.
Al-abadi mengakui adanya kerusuhan yang telah mencekam Basra, tapi menyebut kerusuhan itu sebagai “sabotase politik”. Dia juga menyatakan bahwa keluhan tentang buruknya layanan masyarakat telah dimanfaatkan demi keuntungan politik.
Kantor berita Prancis AFP melaporkan bahwa aksi-aksi protes minggu ini pecah setelah 30 ribu orang yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena minum air yang tercemar di Basra.
