3. Siapa yang Pertama Kali Melontarkan?
Isu bingar ini, awalnya, bermula dari usulan Koalisi Prabowo-Sandi, yang mengusulkan penggunaan bahasa Inggris dalam debat capres dan cawapres.
Menurut Yandri Susanto, Ketua DPP PAN, usulan itu perlu didiskusikan, karena bisa jadi pertimbangan KPU dalam mengatur format jalannya debat.
Lontaran usulan ini diterima kubu Joko Widodo.
Wakil Sekjen PPP Indra Hakim Hasibuan membalasnya dengan menantang Prabowo-Sandi untuk debat dalam bahasa Arab, bahkan melafalkan ayat suci Alquran.
Wakil Ketua tim kampanye nasional Jokowi-Ma'ruf, yang juga politisi Partai Nasdem, Johnny G Plate saat dihubungi BBC News Indonesia, Jumat (14/09), mengutarakan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam debat capres dan cawapres "salah tempat".
"Kita lihat rakyatnya berbahasa apa? Indonesia kan? Maka pakailah bahasa Indonesia," katanya.
Johnny menambahkan, semua sudah diatur dalam undang-undang, bahwa nantinya calon presiden dan wakil presiden akan menjadi lambang negara juga.
"Penggunaan bahasa Indonesia juga sudah digaungkan dalam Sumpah Pemuda, jika berkomunikasi saja sudah salah, ya gagal paham jadinya," tandasnya.
4. Apakah Kemampuan Bahasa Inggris Presiden Joko Widodo Jelek?
Penggunaan bahasa Inggris dalam debat sejatinya adalah bentuk kritik dari kubu Prabowo-Sandi.
Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahean menjelaskan, ini semua jadi riuh karena situasi yang sering dipertontonkan Presiden Joko Widodo, misalnya dalam pidato berbahasa Inggris.
"Bisa dibilang bahasa Inggris ndeso," ujar Ferdinand.

Menurutnya, Indonesia butuh pemimpin yang cakap berbahasa Inggris, seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya, agar tidak ada keterbatasan dalam berkomunikasi dengan pemimpin-pemimpin dunia.
Sebaliknya, politisi Partai Nasdem, Johnny G Plate justru menganggap, bahasa Inggris dapat digunakan di berbagai forum internasional.
"Pidato Pak Jokowi di World Economic Forum, justru menuai banyak pujian," tambahnya.
Pidato presiden dalam bahasa Inggris pada berbagai kesempatan internasional, sudah pada tempatnya, namun bukan saat debat calon presiden dan calon wakil presiden.
Beda suara dengan Johnny, Ferdinand justru menganggap pujian terhadap presiden merupakan bentuk sindiran satire, meskipun Politisi Partai Demokrat itu, punya nada yang sama dengan Johnny, bahwa bahasa Inggris untuk debat Capres dan Cawapres, salah tempat.