5. Mengapa Prabowo Subianto Diisukan “Kurang Saleh”?
Tentang pembacaan Alquran dalam debat Capres dan Cawapres, Johnny G Plate mengutarakan bahwa pembacaan Alquran itu wajar.
Karena ada doa sebelum acara dimulai "Pasti ayat alquran yang dibaca dalam doa sebelum debat," imbuhnya.
Sementara itu, Ferdinand Hutahean sempat menambahkan bahwa jika dahulu Presiden Joko Widodo diserang karena kurang saleh, lalu ia membuktikannya dengan sering menjadi imam dalam salat, kemudian rajin berkunjung ke pesantren, kini kebalikannya, Prabowo Subianto yang diserang karena dianggap kurang saleh.
"Yang saya tahu, Pak Prabowo menjalankan agama yang ia yakini, kita harus bicara konteks, bukan mempermasalahkan hal privat lalu jadi bahan perbincangan publik," kata Ferdinand.
Johnny G Plate mengungkapkan, apa yang dibahas oleh kubu sebelah sejatinya tidak membahas visi dan misi, yang seharusnya dipersiapkan sejak dini, sementara Ferdinand menghimbau kepada sesama politisi dan masyarakat, agar mengentikan topik ini, karena konteksnya tidak tepat.
6. Bagaimana Debat Ideal Antar Calon Presiden dan Wakil Presiden?
Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perludem menjelaskan, kuncinya adalah pemaparan data dan angka.
Jika calon presiden dan wakil presiden bisa memunculkan data yang valid, akan memancing banyak penonton debat untuk sama-sama membuktikan data itu.
Keadaan pemilih di Indonesia yang terpolarisasi juga jadi aset berharga bagi pemilu, karena masing-masing kubu bisa masuk ke dalam kritik yang substantif.
Jika begini, kualitas politisi juga menentukan kualitas pemilih.
"Gagasan yang mengawang-awang seperti bahasa Inggris dalam debat capres, baca Alquran, justru akan menyulitkan para pemilih mengetahui visi misi masing-masing calon," tutur Titi.
(Erha Aprili Ramadhoni)