Namun nada bahasa yang indah ini memang memiliki aturan penggunaan yang ketat. Laki-laki dan perempuan tidak bicara dialek satu sama lain karena artinya mereka tidak sopan atau malah kasar. Setidaknya, laki-laki yang bicara bahasa perempuan atau sebaliknya akan terasa aneh.
Tapi Yanyuwan bukan hanya soal dialek antara perempuan dan laki-laki — ada lebih banyak upacara dan bahasa untuk menghormati.
Ada 'bahasa isyarat', menurut Bradley, yang berguna saat berburu ketika orang harus diam dan memberi isyarat untuk para pengunjung yang memasuki tempat-tempat suci, tapi kini tak banyak orang yang ingat bahasa ini.
Anak-anak juga belajar 'bahasa tali' — dengan mengikat jerami atau tali dalam pola khusus yang mewakili hewan laut atau makanan.
Menjaga bahasa Yanyuwa berarti menjaga budaya serta makhluk laut.
Ahli bahasa seperti Bradley kini bekerja bersama Friday dan orang-orang Yanyuwa lain untuk mempertahankan bahasa ini dalam bentuk tulisan. Tanpa bahasa mereka, akan sulit bagi orang-orang Yanyuwa untuk menjaga pemahaman mereka akan laut dan rumah mereka.
"Bahasa Inggris tak memahami laut seperti bahasa Yanyuwa," kata Stephen.
Pada 2015, sebagian dari kawasan Teluk diserahkan kembali ke masyarakat Yanyuwa oleh Pemerintah Australia, setelah perjuangan panjang akan klaim tanah di daerah itu yang bermula sejak 1970an.
Saat saya meninggalkan negara hiu macan ini, saya tenang karena mengetahui bahwa perairan ini dijaga oleh para ranger yang tahu daerah ini dengan baik, dan bekerja untuk mempertahankan bahasa serta makhluk laut yang mulai menghilang.
Menjaga bahasa laut kuno agar bisa dinikmati generasi anak cucu masa depan, menurut Bradley adalah, "Ini yang kami sebut kedap masa depan."
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.