nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Potret Lokalisasi di NTT: "Tak Ada Satu Manusia pun yang Ingin Digauli Banyak Lelaki"

Adi Rianghepat, Okezone · Rabu 14 November 2018 17:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 14 340 1977841 potret-lokalisasi-di-ntt-tak-ada-satu-manusia-pun-yang-ingin-digauli-banyak-lelaki-FXk7gR8yks.jpg Ilustrasi

Hal berbeda diungkap seorang aktivis dan anggota Forum Academia NTT Gusti Brewon. Menurut dia jika ditutup maka pemerintah sedang merakit sebuah bom waktu di Kota Kupang ini. Karena praktik ini akan sulit terkontrol. Karena itu dia meminta pemerintah untuk melakukan penundaan atas kebijakan ini. Jika pemerintah merasa penutupan menjadi mutlak maka harus ditunjukan alasannya yang jelas dan tidak hanya mendasarkannya pada akibat HIV dan Aidsnya.

Menurut Gusti, dari data jumlah pengidap HIV dan Aids di NTT sebanyak 5.000 lebih itu di Kota Kupang berada di angka 1.000. Dari jumlah itu, prosentase pengidap dari golongan pekerja seks hanya berjumlah 10 % saja. Selebihnya justru berasal dari profesi lain.

"Bahkan yang berprofesi sebagai ASN alias PNS jauh lebih besar prosentasenya," katanya.

Itu artinya alasan bahwa lokalisasi menjadi sarang dan bahkan penyumbang penyakit HIV dan Aids tak terbukti. Karena itu pemerintah wajib mengkaji lagi dasar pertimbangan penutupan tempat ini. Hal lain yang berkaitan dengan moralitas, kata Gusti tak bisa dipakai sebagai alasan. Halnitu karena tak ada takar dan timbang soal besar dan kecilnya sebuah moral.

"Berapa sih takar moral mereka yang menolak hal ini ada dan mereka yang saat ini menghuni pemondokan ini," katanya dengan nada tanya.

Dia bahkan mendesak Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore untuk mengurus hal-hal lain yang lebih besar berkaitan dengan hajat hidup masyarakat Kota Kupang. "Ya saya kira wali kota sebaiknya urus saja air minum dengan PDAM dari pada mengutus air mani," katanya.

Seorang penghuni Karang Dempel sebut saja Nona mengaku tak berdaya dengan kebijakan pemerintah ini. Jika memang harus ditutup maka dia hanya bisa pasra.

"Saya bekerja seperti ini hanya untuk biayai anak sekolah. Saya tak bisa kerja lain selain ini. Jika memang harus tutup ya saya iklas saja," katanya.

Karang Dempel yang saat ini dijadikan sebagai lokasi transaksi seks sudah berdiri sejak 1978 silam. Saat itu lokasinya masih sangat sepi dan jauh dari permukiman warga. Dalam perjalanan perkembangan kota derah itu sudah berubah menjadi perkampungan padat penduduk.

Bahkan saat ini lokasi itu menjadi salah satu sentra perdagangan dan bisnis Kota Kupang. Pada lahan seluas 18 ribu meter persegi ada terdapat empat pemondokan yang dijadikan sebagai tempat transaksi seks. Di empat pemondokan itu sampai saat ini dihuni sebanyak 145 perempuan penjaja seks. Dari jumlah itu sebagian besar berasal dari Pulau Jawa dan pulau-pulau lain luar NTT.

Setidaknya dengan banyak pendapat ini bisa memberi dasar pijak yang bijaksana bagi pemerintah untuk mengambil putusan yang baik bagi semua alias bonum comune. Karena apapun alasan dan apapun pekerjaannya, para perempuan itu adalah manusia yang patut mendapat tempat layak sejajar dengan manusia lain di konteks perlakuannya. Simalakama setidaknya bisa teratasi bagi sebuah penghargaan kemanusiaan manusia itu.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini