Share

Dua Pimpinan Khmer Merah Dinyatakan Bersalah Lakukan Genosida

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 16 November 2018 16:50 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 16 18 1978823 dua-pimpinan-khmer-merah-dinyatakan-bersalah-lakukan-genosida-m4MwINnOcr.jpg Mantan Pimpinan Khmer Merah, Khieu Samphan duduk di ruang sidang ECCC, di luar Phnom Penh, Kamboja, menunggu putusan, 16 November 2018. (Foto: Reuters)

PHNOM PENH - Sebuah pengadilan yang didukung PBB menyatakan dua pemimpin Khmer Merah bersalah atas tuduhan genosida, hampir empat dekade setelah kelompok ultra-Maoist yang pernah berkuasa di Kamboja itu digulingkan.

Khmer Merah yang berkuasa di Kamboja dari 1975 sampai 1979 dianggap bertanggungjawab atas keberadaan “Killing Fields”, sejumlah lokasi di mana lebih dari satu juta orang dikumpulkan, dibunuh dan dikuburkan, oleh tentara Khmer Merah.

Antara 1,7 juta sampai 2,2 juta orang, atau hampir seperempat dari populasi Kamboja, tewas selama empat tahun rezim Khmer Merah berkuasa. Sebagian besar korban tewas karena kelaparan, penyiksaan, kelelahan dan penyakit di kamp kerja paksa atau dipukuli sampai mati di tempat eksekusi.

BACA JUGA: Lakukan Genosida, Pemimpin Khmer Merah Diadili

Kantor Luar Biasa di Pengadilan Kamboja (Extraordinary Chambers in the Courts of Cambodia, ECCC) memutuskan bahwa Pemimpin Khmer Merah yang dikenal dengan julukan "Brother Number Two", Nuon Chea, (92 tahun), dan mantan Presiden Khieu Samphan, (87 tahun), bersalah telah melakukan genosida terhadap minoritas Muslim Cham dan rakyat Vietnam serta berbagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pengadilan menjatuhkan vonis hukuman seumur hidup terhadap kedua terdakwa, namun mereka menyatakan tidak bersalah.

Nuon dan Samphan telah menjalani hukuman seumur hidup pada 2014 atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait evakuasi paksa dari Ibu Kota Phnom Penh yang dilakukan keduanya setelah mengambil alih kepemimpinan dari Pemimpin terkenal Khmer Merah, Pol Pot pada 1975.

Telah ada perdebatan yang berlangsung selama bertahun-tahun mengenai apakah Khmer Merah dapat dianggap melakukan genosisa atau pemusnahan etnis, mengingat korban mereka sebagian besar adalah rakyat Kamboja yang satu etnis. Namun, pengadilan menemukan bahwa selama masa pemerintahan kedua pemimpin tersebut, Khmer Merah memiliki kebijakan untuk menyasar etnis minoritas Cham dan warga Vietnam untuk menciptakan “masyarakat atheis dan homogen tanpa pemisahan kelas”.

Genosida tersebut dilakukan terhadap etnis Cham, warga Vietnam dan penganut Budha.

“Etnis Cham dipisahkan dan tersebar di antara desa-desa Khmer agar komunitas mereka dibongkar dan sepenuhnya berasimilasi dengan penduduk Kamboja,” kata Hakim Nil Nonn sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (16/11/2018).

"Sejumlah besar warga sipil Cham diambil ... dan kemudian dibunuh dalam skala besar," tambahnya.

BACA JUGA: Eks Pemimpin Khmer Merah Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup

Ratusan warga sipil dan tentara Vietnam tewas di pusat interogasi S-21, sebuah sekolah di Phnom Penh bernama Tuol Sleng yang diubah menjadi lokasi interogasi, setelah disiksa agar mengaku sebagai mata-mata.

"Semua prajurit Vietnam dan warga sipil yang memasuki S-21 diberi label sebagai mata-mata dan dianggap musuh," kata Nil Nonn. "Nasib para tahanan ini telah diketahui sebelumnya karena mereka semua pada akhirnya akan dieksekusi."

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

ECCC didirikan pada 2005 untuk mengadili “mereka yang paling bertanggung jawab” atas kasus kematian di bawah Khmer Merah. Sejauh ini, pengadilan gabungan Kamboja dan PBB itu telah menjatuhkan vonis terhadap tiga orang terdakwa.

Vonis pertama dijatuhkan pada 2010 ketika menghukum Kaing Guek Eav, alias "Duch", pimpinan S-21 di mana sebanyak 14.000 orang disiksa dan dieksekusi. Kaing divonis hukuman penjara sumur hidup.

Dua pemimpin Khmer Merah lainnya, Ta Mok dan Ieng Sary, juga menghadapi dakwaan tetapi meninggal sebelum kasus itu diputuskan. Pol Pot meninggal pada 1998.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini