Share

Sulitnya Menangkap Harimau Tersesat di Ruko, Sempat Terbius Tapi Bangkit Lagi

Banda Haruddin Tanjung, Okezone · Jum'at 16 November 2018 17:35 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 16 340 1978853 sulitnya-menangkap-harimau-tersesat-di-ruko-sempat-terbius-tapi-bangkit-lagi-s7MC2XHJuH.jpg Ilustrasi Harimau (Google)

PEKANBARU - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menjelaskan, pihaknya berhasil menembak bius harimau Sumatera yang bersembunyi di kolong ruko (rumah toko). Namun pihak tim kehilangan jejak harimau.

"Tim berhasil menembak sasaran yang masih di bawah kolong ruko. Saat itu tembak bius, harimau tidak tampak," kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono Jumat (16/11/2018).

 Baca juga: Hari Ketiga, Harimau Terjebak di Kolong Ruko Masih Sulit Dievakuasi

Namun petugas kesulitan mencari keberadaan harimau. Lokasi kolong ruko yang sempit dan gelap menjadi kendala tim mencari satwa yang dilindungi tersebut.

Suharyono mengatakan bahwa usai ditembakan, bius akan bereaksi sekitar 30 menit. Setelah setengah jam, harimau tersebut akan tertidur selama 2 jam.

 Baca juga: Penembak Bius Dikerahkan untuk Tangani Harimau yang Tersesat di Ruko

"Tim baru mendapati harimau tersebut di dekat saluran air. Jadi obat biusnya sudah tidak berpengaruh lagi," imbuhnya.

Harimau Sumatera liar tersebut sudah terjebak di perkampungan Desa Teluk Nibung Kecamatan Pulau Burung Kabupaten Inhil, Riau pada 14 November 2018. Harimau tersebut diduga yang menerkam empat ekor sapi warga.

Sebelumnya warga Inhil juga dihebohkan penyerangan harimau bernama Bonita. Satwa ini menyerang tiga warga, dua di antaranya tewas. Penyerangan dikabarkan karena anak Bonita ditangkap pemburu.

 Baca juga; Begini Cara Warga Halau Macan Gunung Lawu Masuk ke Perkampungan

Harimau Bonita sudah berhasil dievakuasi dan dibawa ke pusat rehabilitasi di Dhamasraya, Sumatera Barat. Rusaknya hutan tempat tinggal harimau diduga menjadi penyebab utama harimau masuk ke permukiman warga. Habitat harimau Sumatera telah dikuasai oleh perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik perusahaan kertas raksasa.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini