nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasca Pembunuhan Khashoggi, Puluhan Pangeran Saudi Ingin Putra Mahkota Diganti

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 21 November 2018 14:59 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 21 18 1980672 pasca-pembunuhan-khashoggi-puluhan-pangeran-saudi-ingin-putra-mahkota-diganti-3JkLe39dtY.jpg Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (Foto: Reuters)

RIYADH - Anggota keluarga kerajaan penguasa Arab Saudi dilaporkan tengah melakukan provokasi untuk mencegah Putra Mahkota Mohammed bin Salman menjadi raja setelah munculnya skandal internasional terkait pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Beberapa sumber yang dekat dengan keluarga kerajaan mengatakan, puluhan pangeran dan sepupu MbS, julukan dari sang putra mahkota, telah menuntut dilakukannya perubahan terhadap garis suksesi takhta Arab Saudi.

Sumber pejabat Amerika Serikat (AS) yang merupakan sekutu dekat Arab Saudi telah mengindikasikan kepada penasihat kerajaan bahwa mereka akan mendukung Pangeran Ahmed bin Abdulaziz yang menjabat sebagai wakil menteri dalam negeri selama hampir 40 tahun sebagai penerus potensial Raja Salman bin Abdulaziz.

BACA JUGA: CIA Sebut Putra Mahkota Saudi Bertanggung Jawab Atas Kematian Khashoggi

Menyusul munculnya reaksi keras dunia internasional terkait kematian Khashoggi, puluhan pangeran dan sepupu dari cabang-cabang kuat dari keluarga Al Saud ingin melihat perubahan dalam garis suksesi. Namun, menurut beberapa sumber yang dilansir Al Jazeera, Rabu (21/11/2018), mereka tidak akan bertindak saat Raja Salman, ayah dari sang putra mahkota masih hidup.

Mereka mengerti bahwa sang raja kemungkinan tidak akan bertindak terhadap putra kesayangannya.

Sebaliknya, mereka mendiskusikan dengan anggota keluarga lain mengenai kemungkinan menempatkan Pangeran Ahmed di takhta setelah kematian Raja Salman. Pangeran Ahmed yang berusia 76 tahun adalah satu-satunya saudara Raja Salman yang masih hidup sehingga dia akan dengan mudah mendapatkan dukungan dari anggota keluarga kerajaan, aparat keamanan dan Barat.

Pangeran Ahmed kembali ke Riyadh pada Oktober setelah dua bulan berada di luar negeri.

Dia adalah salah seorang anggota keluarga kerajaan yang membelot dan sering melontarkan kritik terhadap Riyadh. Dia juga menjadi salah satu anggota keluarga yang berkuasa di Arab Saudi yang menentang penunjukan MbS sebagai putra mahkota pada 2017.

Banyak pihak menduga Mohammed bin Salman sebagai orang yang bertanggungjawab atas pembunuhan keji terhadap Khashoggi, termasuk dinas intelijen AS, CIA. Namun, Riyadh menolak semua tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa sang putra mahkota sama sekali tidak tahu menahu mengenai kasus tersebut.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir mengatakan bahwa semua tuduhan terhadap MbS memerintahkan pembunuhan atas Khashoggi adalah salah.

"Kami di kerajaan tahu bahwa tuduhan tentang putra mahkota tidak memiliki dasar dalam kebenaran dan kami secara tegas menolak tuduhan-tuduhan tersebut, apakah melalui bocoran atau tidak," kata al-Jubeir dalam wawancara dengan surat kabar pemerintah al-Sharq al-Awsat sebagaimana dilansir Al Jazeera,

"Adalah kebocoran yang belum diumumkan secara resmi, dan saya perhatikan bahwa mereka didasarkan pada penilaian, bukan bukti konklusif."

BACA JUGA: Putra Mahkota Saudi Bebas dari Pembunuhan Khashoggi, Raja Salman Puji Sistem Yudisial

Menurut salah satu sumber Saudi yang berada di posisi yang baik, banyak pangeran dari kalangan senior di keluarga percaya bahwa perubahan dalam garis suksesi "tidak akan memancing perlawanan apa pun dari pihak keamanan atau badan intelijen yang dikendalikan oleh MbS karena kesetiaan mereka kepada keluarga yang lebih luas.

"Mereka (aparat keamanan) akan mengikuti konsensus yang dicapai oleh keluarga."

Pejabat di Riyadh tidak memberikan komentarnya mengenai laporan tersebut.

(dka)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini