nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Mata-Mata Prancis Ungkap Kisah di Balik Pelarian Putri Dubai yang Hilang Misterius

Indi Safitri , Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 17:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 05 18 1987177 mantan-mata-mata-prancis-ungkap-kisah-di-balik-pelarian-putri-dubai-yang-hilang-misterius-hhKYWKCeYS.jpg Sheikha Latifa. (Foto: BBC)

Mereka kemudian berganti pakaian, melompat ke dalam mobil dan pergi ke Oman lalu ke pantai. Mereka akhirnya mencapai kapal pesiar Jaubert di Samudra Hindia setelah melakukan perjalanan menggunakan jetski dan perahu kecil.

Setelah berada di kapal yacht, mereka berlayar ke Goa, India, di mana Latifa berencana mengklaim suaka politik sebelum pindah ke Amerika Serikat (AS). Di atas kapal, dia memberi tahu Jaubert bahwa dia lebih baik dibunuh di perahu daripada kembali ke Dubai.

Namun, pada 4 Maret 2018, hanya sekira 50 kilometer dari pantai India, kapal mereka diserbu oleh orang-orang bersenjata yang menutup mata dan mengikat Jaubert dan Jauhiainen, serta menangkap Latifa.

Ketiganya dikembalikan ke UEA, di mana Jaubert dan Jauhiainen dipukuli, diancam dengan eksekusi, kelaparan, dehidrasi dan diinterogasi hingga 20 jam sehari selama hampir dua pekan sebelum akhirnya dibebaskan. Pada satu titik mereka dipaksa untuk membaca 'pengakuan' yang ditulis oleh otoritas Emirat, yang direkam oleh video, dan dipaksa menandatangani dokumen dalam bahasa Arab yang tidak dapat mereka pahami.

Video: Free Ltifa/YouTube

Selain itu, keduanya dipaksa menandatangani Perjanjian Keterbukaan yang menetapkan bahwa mereka tidak akan pernah membahas peristiwa apa pun yang telah terjadi. Mereka juga diperingatkan bahwa Sheikh Mohammad adalah "orang yang sangat berkuasa dan dia dapat membawa Anda ke mana saja di dunia".

Detained in Dubai

Radha Stirling, kepala eksekutif organisasi non-pemerintah (NGO) Detained di Dubai, juga dihubungi oleh Latifa sebelum melarikan diri. Sang putri mengatakan kepada organisasi amal itu bahwa dia telah dipukuli, disiksa, ditahan di sel isolasi, diancam, dan dibius atas perintah ayahnya selama tiga tahun setelah upaya melarikan diri pada usia 16 tahun.

Dia juga menuduh kebebasannya sangat dibatasi, dengan semua gerakannya yang dikendalikan oleh ayahnya, yang juga diklaimnya telah melakukan atau memerintahkannya beberapa kejahatan lain, termasuk pembunuhan saudara iparnya sendiri.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini