nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Mata-Mata Prancis Ungkap Kisah di Balik Pelarian Putri Dubai yang Hilang Misterius

Indi Safitri , Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 17:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 05 18 1987177 mantan-mata-mata-prancis-ungkap-kisah-di-balik-pelarian-putri-dubai-yang-hilang-misterius-hhKYWKCeYS.jpg Sheikha Latifa. (Foto: BBC)

MANTAN mata-mata Prancis, Herve Jaubert, yang membantu Putri Latifa dari Dubai mengatur pelariannya dari Uni Emirat Arab (UEA) menceritakan kisah di balik rencana nekat yang mereka lakukan pada 2014.

Jaubert mengungkapkan bahwa dia dan Latifa menghabiskan tujuh tahun untuk merencanakan pelarian tersebut. Sayangnya, rencana berani itu pada akhirnya berujung pada sebuah kegagalan total.

Dalam wawancara dengan program dokumenter BBC “Escape from Dubai”, Jaubert, mantan perwira Angkatan Laut yang melarikan diri dari Dubai setelah terlibat masalah dengan otoritas setempat mengatakan bahwa Latifa mengontaknya pada 2011 setelah mendengar cerita tentang pelariannya. Sang putri meminta bantuan Jaubert untuk merencanakan pelariannya sendiri.

BACA JUGA: Teka-Teki Putri Penguasa Dubai yang Hilang Setelah Berupaya Kabur

Jaubert mengungkapkan pesan Puteri Latifa kepadanya sebelum rencana itu dijalankan, di mana dia mengatakan bahwa dia “lebih baik mati” daripada kembali ke UEA, karena ketatnya kontrol sang ayah Syekh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum terhadap hidupnya.

"Saya telah diperlakukan buruk dan ditindas sepanjang hidup saya. Perempuan diperlakukan layaknya bukan manusia. Ayah saya tidak bisa terus melakukan apa yang telah dia lakukan kepada kita semua," tulis sang putri dalam salah satu surelnya.

Dia juga mengklaim kakak perempuannya, yang mencoba melarikan diri saat keluarga mereka berlibur di Sussex, Inggris telah ditangkap dua bulan kemudian di Cambridge. Latifa mengatakan sang kakak dibawa kembali ke UEA di mana dia dipenjara dan dibius agar tidak melawan. Sejak itu, dia dikawal oleh perawat ke mana pun dia pergi.

Jaubert pada mulanya tidak mempercayai cerita tersebut, mengira itu mungkin sebuah cara untuk membuatnya kembali ke UEA, tetapi akhirnya sang putri berhasil membujuknya dan meyakinkan Jaubert atas identitasnya. Keduanya kemudian saling bertukar pesan setiap dua atau tiga hari selama tahun-tahun berikutnya.

Sebelum melarikan diri, Latifa juga merekam sebuah video yang menjelaskan alasannya untuk kabur dari UEA yang didistribusikan di antara media untuk publikasi jika dia menghilang atau mati. Video tersebut akan disebarkan kepada media dan penerbitan baik lokal mau pun internasional jika dia kemudian menghilang atau tewas.

Pada 2014, rencana keduanya mulai berjalan setelah Latifa bertemu Tiina Jauhiainen, seorang instruktur beladiri yang datang ke istana Sheikh untuk mengajarinya capoeira. Mereka dengan cepat menjadi teman dan berjanji untuk melarikan diri bersama. Jauhiainen akan terbang untuk bertemu Jaubert berulang kali, meskipun trio itu tidak akan bersatu penuh sampai hari pelarian,

Di hari yang direncanakan, Putri Latifa pergi untuk sarapan dengan Jauhiainen. Rutinitas itu telah mereka lakukan selama bertahun-tahun sebelumnya agar tidak menarik perhatian pada hari yang ditentukan.

Mereka kemudian berganti pakaian, melompat ke dalam mobil dan pergi ke Oman lalu ke pantai. Mereka akhirnya mencapai kapal pesiar Jaubert di Samudra Hindia setelah melakukan perjalanan menggunakan jetski dan perahu kecil.

Setelah berada di kapal yacht, mereka berlayar ke Goa, India, di mana Latifa berencana mengklaim suaka politik sebelum pindah ke Amerika Serikat (AS). Di atas kapal, dia memberi tahu Jaubert bahwa dia lebih baik dibunuh di perahu daripada kembali ke Dubai.

Namun, pada 4 Maret 2018, hanya sekira 50 kilometer dari pantai India, kapal mereka diserbu oleh orang-orang bersenjata yang menutup mata dan mengikat Jaubert dan Jauhiainen, serta menangkap Latifa.

Ketiganya dikembalikan ke UEA, di mana Jaubert dan Jauhiainen dipukuli, diancam dengan eksekusi, kelaparan, dehidrasi dan diinterogasi hingga 20 jam sehari selama hampir dua pekan sebelum akhirnya dibebaskan. Pada satu titik mereka dipaksa untuk membaca 'pengakuan' yang ditulis oleh otoritas Emirat, yang direkam oleh video, dan dipaksa menandatangani dokumen dalam bahasa Arab yang tidak dapat mereka pahami.

Video: Free Ltifa/YouTube

Selain itu, keduanya dipaksa menandatangani Perjanjian Keterbukaan yang menetapkan bahwa mereka tidak akan pernah membahas peristiwa apa pun yang telah terjadi. Mereka juga diperingatkan bahwa Sheikh Mohammad adalah "orang yang sangat berkuasa dan dia dapat membawa Anda ke mana saja di dunia".

Detained in Dubai

Radha Stirling, kepala eksekutif organisasi non-pemerintah (NGO) Detained di Dubai, juga dihubungi oleh Latifa sebelum melarikan diri. Sang putri mengatakan kepada organisasi amal itu bahwa dia telah dipukuli, disiksa, ditahan di sel isolasi, diancam, dan dibius atas perintah ayahnya selama tiga tahun setelah upaya melarikan diri pada usia 16 tahun.

Dia juga menuduh kebebasannya sangat dibatasi, dengan semua gerakannya yang dikendalikan oleh ayahnya, yang juga diklaimnya telah melakukan atau memerintahkannya beberapa kejahatan lain, termasuk pembunuhan saudara iparnya sendiri.

Pada 4 Maret, Stirling menerima panggilan panik dari Latifa yang mengatakan kapal mereka saat itu dinaiki di tengah-tengah tembakan, dan memohon bantuan. Komunikasi kemudian terputus dan NGO itu belum mendengar kabar apa pun dari Latifa sejak saat itu.

"Saat ini, keberadaan Latifa masih belum diketahui. Kami tidak tahu apakah dia masih hidup atau mati. Dia masih diklasifikasikan sebagai hilang. UEA dan India melanggar sejumlah hukum ketika mereka menyerang kapal pesiar Hervé’s yang terdaftar di AS di perairan internasional dan menculik semua yang ada di dalam kapal dengan kekuatan berlebihan,” kata Stirling sebagaimana dilansir Sputnik, Rabu (5/12/2018).

“Selain tindakan-tindakan ini, tuduhan Latifa terhadap Sheikh Mohammad sangat serius dan memerlukan penyelidikan penuh. Kami akan mengejar hal-hal ini secara hukum di beberapa yurisdiksi dalam beberapa pekan mendatang,” lanjutnya.

Selain Detained in Dubai, NGO lainnya, Amnesti Internasional juga melihat insiden tersebut "kemungkinan melibatkan beberapa pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional" oleh India dan UEA, termasuk penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penghilangan paksaan. Organisasi hak asasi manusia terkemuka telah meminta UEA untuk segera mengungkapkan keberadaan Latifa.

"Jika dia dirampas kebebasannya, dia harus memiliki kontak dengan pengacara dan orang yang dicintai dan akses ke semua jaminan persidangan yang adil. Jika dia hanya ditahan karena berusaha melarikan diri dari negara atau karena alasan lain yang tidak sesuai dengan standar hak asasi manusia, dia harus segera dibebaskan tanpa syarat dan haknya untuk kebebasan bergerak, termasuk bepergian ke luar negeri, harus dihormati. UEA harus bertindak untuk memastikan Dubai menghormati hak asasi manusia warganya dan semua orang yang berada di bawah yurisdiksinya. Amnesti International juga menyerukan kepada India untuk menyelidiki insiden itu dan peran pasukan keamanannya, termasuk tuduhan pemukulan yang bisa menyiksa atau perlakuan kejam lainnya, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat, dan memastikan mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban,” kata Amnesty dalam pernyataannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini