nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polda Metro Ogah Ikut-ikutan Tetapkan Habib Bahar sebagai Tersangka

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 15:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 07 337 1988166 polda-metro-ogah-ikut-ikutan-tetapkan-habib-bahar-sebagai-tersangka-RiZNbJ1hLf.JPG Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono (Foto: Harits/Okezone)

JAKARTA - Usai menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 11 jam di Bareskrim Polri pada Kamis 6 Desember 2018 kemarin, penceramah muda Habib Muhammad Bahar bin Ali bin Smith telah resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Meski Mabes Polri langsung mentersangkakan Bahar bin Smith, namun Polda Metro Jaya enggan ikut-ikutan mengambil langkah serupa. Kabid Humas Polda Metro, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono menyatakan bahwa Polda Metro tidak ingin terburu-buru menetapkan status hukum pendiri Majelis Pembela Rasulullah itu.

"Kita tidak bisa terus ikut-ikutan ya, semuanya sesuai fakta hukum di lapangan," ujar Argo saat ditemui wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Bahar bin Smith

Soal penetapan status hukum seseorang lanjut Argo, semua ada di tangan penyidik berdasarkan pemeriksaan para saksi. "Dan tentunya di Polda Metro di Krimsus kan sudah memeriksa sejumlah saksi. Ada sekitar lima saksi lebih yang diperiksa. Saksi ahli juga sudah," tambahnya.

Sebelumnya, penetapan Habib Bahar sebagai tersangka dikonfirmasi langsung oleh kuasa hukumnya, Azis Yanuar usai menemani kliennya menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri. “Hasilnya, beliau (Habib Bahar bin Smith) ditetapkan tersangka," beber Azis.

Tak lama, berembus kabar itu, Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Pol Syahar Diantono pun membenarkannya. Namun meski sudah tersangka, polisi belum menahan pria asal Manado itu.

Bahar bin Smith

“Telah dilakukan pemeriksaan, paraf dan penandatanganan BAP oleh tersangka dan pengacaranya, namun tidak dilakukan penahanan dan HBS (Habib Bahar bin Smith) telah kembali (pulang)," ucap Syahar.

Pemimpin Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Kemang, Bogor itu dijerat pasal berlapis yaitu Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf (a) ke-2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Pasal 45 juncto Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Pasal 207 KUHP.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini