Pilpres 2019, Masyarakat Jangan Mudah Percaya Bisikan Setan

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 23:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 07 605 1988381 pilpres-2019-masyarakat-jangan-mudah-percaya-bisikan-setan-Fn4kaJKEhU.jpeg Diskusi membangun kebersamaan antara Polri dengan elemen masyarakat dalam membendung intoleransi, Jakarta, Jumat (7/12/2018) (Foto: Achmad Fardiansyah)

JAKARTA - Direktur Kemanan Negara Baintelkam Polri Brigjen Pol Djoko Mulyono mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terhasut dengan provokasi yang memecah belah. Hal itu ditegaskannya menyusul tahun politik menuju Pilpres 2019 yang kian "memanas".

"Jangan mudah percaya dengan bisikan setan. Semua elemen masyarakat harus tetap bersatu jangan tercerai berai," ujar Djoko dalam diskusi "Membangun Kebersamaan Antara Polri dan Segenap Elemen Masyarakat dalam Membendung Intoleransi" di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Menurutnya, masyarakat harus menanamkan kembali Pancasila untuk tetap saling toleransi, menghargai dan menghormati. "Jangan sebaliknya suka mengkafirkan orang. Kita harus kembali memikirkan bangsa kedepan, jangan sampai anak cucu kita nanti menjadi korban," tuturnya.

(Baca Juga: Datang ke Acara Komunitas Tionghoa, Ahok Sumbang Prabowo-Sandi Rp250 Juta)

Ilustrasi

Presiden Majelis Dzikir RI 1 Habib Salim Jindan Baharun menuturkan, revolusi mental yang digaungkan Presiden Jokowi sangat baik. Bahkan, ia menilai calon petahana itu sebagai sosok yang cerdas.

"Revolusi mental itu baik sesuai amanat Bapak Presiden Jokowi, tapi masalahnya sekarang revolusi mental itu sudah hilang. Makanya, kita butuh revolusi mental itu betul," ujarnya.

Revolusi mental Jokowi harus dikembalikan dengan amal agama, dan saling mengingatkan dan bisa terealisasi bila semua anak bangsa bersatu. Sementara untuk menangkal gerakan intoleransi, ia menilai tidak sulit.

"Kumpulkan para tokoh-tokoh yang dianggap keras dan intoleran, ajak dzikir bersama ingatkan kapan sih kita mati, ajak mereka nangis bersama, apakah kita merasa paling beriman dan beragama. Pakai konsep mengingatkan diri," terangnya.

(Baca Juga: Isu Agama Berpotensi Dimainkan untuk Kepentingan Politik Pilpres 2019)

Ilustrasi

Kalau ada yang dianggap garis keras dan suara intoleransi khilafah, harus pandang mereka sebagai anak bangsa. Bukan memandangnya sebagai musuh dan orang menakutkan.

"Anggap mereka anak yang lagi nakal dan butuh dirangkul dan mereka hanya cari perhatian," tuturnya.

Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI Pendeta Henrek Lokra yang hadir dalam diskusi turut menyayangkan maraknya praktik intoleransi di tahun politik. Menurutnya, toleransi menguat di tahun 2015 dan sebaliknya ketika ada momentum politik toleransi melemah.

"Tapi kalau gak ada momentum politik maka kita bisa kembali ke nature kita sebagai masyarakat berbasis Pancasila," ujarnya.

Cendikiawan Muda NU Nur Ahmad Satria menambahkan, agar para calon presiden yang bertarung di Pilpres 2019 tidak memakai isu agama. Elite politik harus pertimbangkan kepentingan bangsa yang lebih besar dari kepentingan pribadi.

"Jangan pakai isu-isu agama. Jangan jadikan agama buat main-main. Kalau yang pakai isu agama insya Allah gak pernah menang dalam konteks sebenarnya," katanya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini