Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Senin, 17 Desember 2018 |06:54 WIB
Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku
"Nyonya B" dijual kepada seorang pria Cina dan kemudian berakhir menjual perempuan-perempuan lain. (Cinesofa)
A
A
A

Cinta yang tak terduga?

"Saya rasa itu adalah kasih sayang. Kasih sayang antara dua manusia," begitulah Nyonya B menggambarkan perasaannya kepada suami Cinanya (pria yang membelinya) saat ditanyakan apakah itu adalah 'cinta'.

"Saya tidak pernah benar-benar menganggapnya 'cinta.' Hanya, dia sungguh mengerti, manusia yang sangat baik." tambahnya.

Nyonya B mengtakan tak banyak orang berbicara mengenai 'cinta' di pedesaan di Cina, tempat dia tinggal dengan suaminya.

Di Korea Utara, orang juga tidak membicarakan mengenai 'cinta'.

Film itu sebagian besar fokus pada hubungannya dengan suaminya dari Cina.

Meskipun dia 'dijual' kepada suaminya, Nyonya B mengatakan dia sangat penyayang.

Dalam film itu dia terlihat sebagai pria yang berusaha membuatnya lebih tenang dengan memberikan senyum saat Nyonya B sedang marah.

Dia membantunya saat bersiap-siap melintasi perbatasan Cina-Laos, dan yakin bahwa ketika dia sudah menetap di Korea Selatan dia akan mengatur agar suaminya menyusulnya.

Para penonton heran dengan anggapan bahwa perdagangan manusia dapat mengarah ke kicah cinta yang tak terduga.

"Saya mengatakan kepadanya bahwa saya mampu memiliki keturunan, namun saya memutuskan tidak, karena saya sudah memiliki anak-anak di Korea Utara dan dia mengatakan 'oke.' Saya begitu merasa bersyukur. Maksud saya, siapa yang tidak akan bersyukur?" kata Nyonya B.

"Saya memiliki rasa tanggung jawab ini karena pria ini tidak memiliki anak dikarenakan oleh saya, anak-anak saya dan saya akan berada di sampingnya saat dia meninggal," ungkapnya.

Apa yang diluputkan film itu

Nyonya B sebenarnya membawa anak-anak Korea Utaranya - ditambah, suami Korea Utaranya ke Cina untuk tinggal dengan mereka - meski itu tak diungkapkan di film itu.

Pada 2009, dia membawa putra sulungnya ke Cina. Dia tinggal dengan dirinya dan suami Cinaya selama tiga tahun namun dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan baik. Nyonya B akhirnya membantunya keluar, ke Korea Selatan.

Pada 2013, Nyonya B juga membantu putra bungsunya dan suami Korea Utaranya ke Korea Selatan. Namun sebelumnya, mereka datang untuk tinggal dengannya dan suami Cinanya selama 40 hari.

"Kami bahkan tidur di satu kamar - saya, suami Cina saya, suami Korut saya dan putra bungsu saya," katanya.

"Bukankah itu romantis?" candanya.

"Hanyalah satu dari mereka"

Nyonya B mengatakan 80% dari perempuan Korut mengalami perdagangan manusia dalam usaha mereka melarikan diri dari negara asal mereka.

Dan dia "hanyalah satu dari mereka."

Baik Korsel, Korut atau Cina tidak memiliki statistik resmi mengenai berapa banyak perempuan Korut yang mengalami perdagangan manusia.

Nyonya B tidak langsung menjadi pelaku dengan menjual perempuan Korut lain di Cina.

Awalnya, katanya, dia bekerja di sebuah peternakan sapi dan menghasilkan pendapatan senilai sekitar Rp135.000 per bulan.

Dia bekerja di peternakan itu selama dua tahun dan bertemu keluarga Korutnya di perbatasan Cina-Korea Utara dengan bantuan seorang broker.

Menyelundupkan perempuan Korea Utara

Dia menjadi kaget ketika suami Korutnya berubah rapuh dan keji dan di situlah saat dia mulai bekerja sebagai seorang penyelundup menjual perempuan-perempuan Korut.

"Saya merasa bahwa untuk melindungi keluarga saya, saya perlu untuk melakukan sesuatu," katanya.

"Saya perlu menghasilkan uang lebih banyak. Namun saya tak punya kewarganegaraan Cina, tak punya identitas pada saat itu dan tak banyak yang bisa saya lakukan untuk menghasilkan banyak uang."

Dari sejak tahun 2005 hingga 2010 dia menjual sekitar 50 perempuan Korut ke pria-pria Cina.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement