Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Senin, 17 Desember 2018 |06:54 WIB
Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku
"Nyonya B" dijual kepada seorang pria Cina dan kemudian berakhir menjual perempuan-perempuan lain. (Cinesofa)
A
A
A

Tak ada akhir yang bahagia

Nyonya B berjanji ke suami Cinanya bahwa dia akan membantunya untuk menyusulnya begitu dia menetap di Korsel. Namun hal itu tak terjadi.

Dia tiba di Korsel pada Januari 2014 dan lewat sebuah interogasi oleh petugas intel Korsel dia dianggap mata-mata.

Sumber kecurigaan adalah dia sempat menjual narkoba Korut, yang dikenal sebagai 'es', di Cina.

Nyonya B mengakui dia pernah melakukan hal itu sekali untuk mencari uang.

Petugas intel Korsel menuduh Nyonya B memberikan keuntungan yang diperoleh dari penjualan narkoba itu ke pemerintah Korut, dan itu artinya ia adalah seorang mata-mata.

Nyonya B tak menolak tegas tuduhan itu.

Meski demikian, pemerintah Korsel mengelompokkan Nyonya B - begitupun suaminya, sebagai - orang Korut yang 'tak terlindungi' - yang berarti mereka tidak dapat menerima tunjangan (uang untuk bermukim, subsidi perumahan dan pelatihan keterampilan, dan lain sebagainya).

'Nyonya B' mengatakan dia tidak bahagia tinggal di Korsel yang bebas. (Cinesofa)

Korea Selatan memberikan status 'tak terlindungi' kepada para pembelot Korut yang memiliki catatan kriminal, yang tinggal di Cina selama setidaknya 10 tahun, atau di antara lainnya, pembelot Korut yang tidak mengajukan suaka selama setahun sejak kedatangan mereka.

Dalam kasus Nyonya B, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan ke media Korsel News Tapa bahwa Nyonya B dan suaminya diberikan status 'tak terlindungi' karena keduanya menjual narkoba ilegal.

Nyonya B mengklaim suaminya tidak pernah menyentuh narkoba itu.

Bahkan, dia mengaku telah menghabiskan semua uang yang didapatnya dari menjual narkoba sehingga tak ada alasan bagi petugas intel Korsel untuk mencurigainya sebagai mata-mata.

Keduanya menyampaikan keberatan kepada pemerintah Korsel.

Di tengah-tengah itu semua, yang tak dinyana: suami Cina Nyonya B malah menikahi perempuan lain.

Hanya berteman

Betapa pun, Nyonya B dan (bekas) suami Cina-nya tetap berhubungan, 'sebagai teman,' kata Nyonya B, sembari menunjukkan sebuah pesan teks yang dikirimkan mantan suaminya di pagi hari saat wawancara berlangsung.

Nyonya B juga mengirimkan foto-foto yang diambil saat pembuatan film itu, kepada bekas suaminya itu.

"Kebanyakan (pesan-pesan) yang dikirimnya, meminta maaf ke saya. Karena dialah yang mengkhianati saya," katanya.

Nyonya B sekarang bekerja di sebuah kafe di Yangpyeong, di timur kota Seoul, di sebuah kedai kopi.

Dia mengatakan, dia menyetujui permintaan sutradara Yun untuk difilmkan, karena alasan uang.

"Pada saat itu uang adalah segalanya bagi saya, namun sekarang saya tidak berpikir seperti itu lagi," katanya.

"Saya mengorbankan segalanya untuk anak-anak saya. Namun saya sekarang telah melampaui usia 50 tahun, saya ingin hidup untuk diri saya, menggapai kebahagiaan saya. Saya tidak ingin terlibat lagi dalam perdagangan dan penyelundupan manusia."

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement