WILAYAH otonomi Xinjiang di bagian barat China punya sejarah panjang perselisihan antara pihak berwenang dan penduduk asli, yakni etnis Uighur. BBC menjelaskan alasannya.
Siapa yang bermukim di Xinjiang?
Wilayah administratif China terbesar, Xinjiang berbatasan dengan delapan negara, Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Hingga saat ini populasinya sebagian besar adalah Uighur, suku minoritas yang beragama Islam.
(Baca Juga: Minimnya Respons Negara Muslim Terhadap Penindasan Etnis Uighur)
Kebanyakan orang Uighur adalah Muslim dan Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki, dan mereka menganggap diri mereka secara budaya dan etnis dekat dengan negara-negara di Asia Tengah.
Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara komunis Cina pada 1949 (foto: AFP/BBC Indonesia)
Ekonomi di kawasan itu sebagian besar berkisar di sekitar pertanian dan perdagangan, dengan kota-kota seperti Kashgar berkembang sebagai hub di sepanjang Jalur Sutra yang terkenal.
Namun pembangunan telah mendatangkan warga-warga baru. Dalam sensus tahun 2000, suku Han mencakup 40 persen populasi. Ada pula sejumlah besar pasukan yang ditempatkan di wilayah tersebut dan sejumlah migran tidak terdaftar yang tidak diketahui jumlahnya.
Kapan Xinjiang menjadi bagian dari China?
Wilayah ini sesekali mendapatkan status otonomi dan bahkan merdeka, tetapi apa yang sekarang dikenal sebagai Xinjiang, menjadi bagian dari kekuasaan China pada abad ke-18.
Pada tahun 1949, sempat ada deklarasi berdirinya sebuah negara Turkistan Timur, tetapi kemerdekaan itu berumur pendek. Lalu tak lama kemudian, di tahun itu juga, Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara China.
Pada 1990-an, dukungan terbuka untuk kelompok separatis meningkat setelah runtuhnya Uni Soviet dan munculnya negara-negara Muslim merdeka di Asia Tengah.
Namun, Beijing menindas demonstrasi dan para pegiat pun tiarap dan bergerak ke bawah tanah.
Apa penyebab berbagai kerusuhan itu?
Keadaannya sangat pelik, namun banyak yang mengatakan bahwa ketegangan etnis yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan budaya adalah akar penyebab berbagai kekerasan baru-baru ini.
Proyek-proyek pembangunan besar telah membawa kemakmuran ke kota-kota besar Xinjiang, yang menarik anak-anak muda suku Han yang berketerampilan dan berkualitas teknis dari provinsi-provinsi timur.
China dituduh melancarkan tindakan keras terhadap kalangan Uighur beberapa tahun terakhir ini (foto: AFP/BBC)
Orang-orang Han disebut mendapat posisi-posisi terbaik dan sebagian besar dari mereka sukses secara ekonomi, sesuatu yang memicu kebencian di antara orang-orang Uighur.
Para aktivis HAM mengatakan, kegiatan komersial dan budaya Uighur lambat laun dibatasi oleh pemerintah China. Muncul keluhan tentang pembatasan keras terhadap yang berbau Islam, bahwa jumlah masjid sedikit sementara sekolah-sekolah agama diawasi ketat.
Amnesty International, dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2013, mengatakan otoritas China mengkriminalisasi "apa yang mereka anggap sebagai 'kegiatan ilegal keagamaan' dan 'separatis'" dan menekan "unjuk rasa identitas budaya yang berlangsung damai".
Pada Juli 2014, beberapa departemen pemerintah Xinjiang memberlakukan larangan berpuasa kepada para pegawai negeri Muslim selama bulan suci Ramadan. Ini bukan pertama kalinya China membatasi puasa di Xinjiang, tetapi kali ini terkait sejumlah serangan yang dituduhkan pada para ekstremis Uighur.