nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengapa Ketegangan Antara Pemerintah China dan Etnis Uighur Terus Terjadi?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 25 Desember 2018 04:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 25 18 1995638 mengapa-ketegangan-antara-pemerintah-china-dan-etnis-uighur-terus-terjadi-RjFUyY3lYP.jpg Etnis Uighur di Xinjiang, China (foto: Reuters)

WILAYAH otonomi Xinjiang di bagian barat China punya sejarah panjang perselisihan antara pihak berwenang dan penduduk asli, yakni etnis Uighur. BBC menjelaskan alasannya.

Siapa yang bermukim di Xinjiang?

Wilayah administratif China terbesar, Xinjiang berbatasan dengan delapan negara, Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Hingga saat ini populasinya sebagian besar adalah Uighur, suku minoritas yang beragama Islam.

(Baca Juga: Minimnya Respons Negara Muslim Terhadap Penindasan Etnis Uighur)

Kebanyakan orang Uighur adalah Muslim dan Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki, dan mereka menganggap diri mereka secara budaya dan etnis dekat dengan negara-negara di Asia Tengah.

Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara komunis Cina pada 1949.	Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara komunis Cina pada 1949 (foto: AFP/BBC Indonesia)

Ekonomi di kawasan itu sebagian besar berkisar di sekitar pertanian dan perdagangan, dengan kota-kota seperti Kashgar berkembang sebagai hub di sepanjang Jalur Sutra yang terkenal.

Namun pembangunan telah mendatangkan warga-warga baru. Dalam sensus tahun 2000, suku Han mencakup 40 persen populasi. Ada pula sejumlah besar pasukan yang ditempatkan di wilayah tersebut dan sejumlah migran tidak terdaftar yang tidak diketahui jumlahnya.

Kapan Xinjiang menjadi bagian dari China?

Wilayah ini sesekali mendapatkan status otonomi dan bahkan merdeka, tetapi apa yang sekarang dikenal sebagai Xinjiang, menjadi bagian dari kekuasaan China pada abad ke-18.

Pada tahun 1949, sempat ada deklarasi berdirinya sebuah negara Turkistan Timur, tetapi kemerdekaan itu berumur pendek. Lalu tak lama kemudian, di tahun itu juga, Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara China.

Pada 1990-an, dukungan terbuka untuk kelompok separatis meningkat setelah runtuhnya Uni Soviet dan munculnya negara-negara Muslim merdeka di Asia Tengah.

Namun, Beijing menindas demonstrasi dan para pegiat pun tiarap dan bergerak ke bawah tanah.

Apa penyebab berbagai kerusuhan itu?

Keadaannya sangat pelik, namun banyak yang mengatakan bahwa ketegangan etnis yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan budaya adalah akar penyebab berbagai kekerasan baru-baru ini.

Proyek-proyek pembangunan besar telah membawa kemakmuran ke kota-kota besar Xinjiang, yang menarik anak-anak muda suku Han yang berketerampilan dan berkualitas teknis dari provinsi-provinsi timur.

China dituduh melancarkan tindakan keras terhadap kalangan Uighur beberapa tahun terakhir ini (AFP)	China dituduh melancarkan tindakan keras terhadap kalangan Uighur beberapa tahun terakhir ini (foto: AFP/BBC)

Orang-orang Han disebut mendapat posisi-posisi terbaik dan sebagian besar dari mereka sukses secara ekonomi, sesuatu yang memicu kebencian di antara orang-orang Uighur.

Para aktivis HAM mengatakan, kegiatan komersial dan budaya Uighur lambat laun dibatasi oleh pemerintah China. Muncul keluhan tentang pembatasan keras terhadap yang berbau Islam, bahwa jumlah masjid sedikit sementara sekolah-sekolah agama diawasi ketat.

Amnesty International, dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 2013, mengatakan otoritas China mengkriminalisasi "apa yang mereka anggap sebagai 'kegiatan ilegal keagamaan' dan 'separatis'" dan menekan "unjuk rasa identitas budaya yang berlangsung damai".

Pada Juli 2014, beberapa departemen pemerintah Xinjiang memberlakukan larangan berpuasa kepada para pegawai negeri Muslim selama bulan suci Ramadan. Ini bukan pertama kalinya China membatasi puasa di Xinjiang, tetapi kali ini terkait sejumlah serangan yang dituduhkan pada para ekstremis Uighur.

Bagaimana kekerasan berkembang?

China telah mengintensifkan kebijakan dan tindakan kerasnya terhadap warga Uighur setelah protes jalanan pada 1990-an dan mengulanginya lagi menjelang Olimpiade Beijing pada 2008.

Tapi kekerasan benar-benar meningkat pada tahun 2009, ditandai kerusuhan etnis skala besar di ibu kota daerah itu, Urumqi. Sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan, sebagian besar dari mereka warga China suku Han, menurut para pejabat.

Keamanan ditingkatkan dan banyak orang Uighur ditahan sebagai tersangka. Namun kekerasan terus bergulir.

Pada Juni 2012, enam orang Uighur dilaporkan mencoba membajak sebuah pesawat dari Hotan ke Urumqi, namun mereka bisa dibekuk oleh sejumlah penumpang dan awak.

Terjadi pertumpahan darah pada April 2013, disusul kekerasan Juni 2013, di distrik Shanshan yang menewaskan 27 orang setelah polisi menembaki sekelompok orang yang menurut media pemerintah adalah gerombolan bersenjatakan pisau yang menyerang bangunan pemerintah setempat.

Ekonomi Xinjiang Berpusat pada Pertanian dan Perdagangan (foto: Reuters/BBC Indonesia)	Ekonomi Xinjiang Berpusat pada Pertanian dan Perdagangan (foto: Reuters/BBC Indonesia)  

Menetapkan fakta tentang insiden ini sulit, karena akses jurnalis asing ke wilayah ini dikontrol ketat. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, tampaknya terjadi pergeseran kekerasan, yang mengarah ke serangan skala besar dengan sasaran warga, terutama di Xinjiang.

Sedikitnya 31 orang tewas dan lebih dari 90 orang menderita luka-luka pada Mei 2014 ketika dua mobil menabrak secara sengaja pasar Urumqi disusul pelemparan bahan peledak ke kerumunan. Cina menyebutnya sebagai "insiden kekerasan teroris ".

Sebelumnya terjadi serangan bom dan pisau di stasiun kereta api selatan Urumqi pada bulan April, yang menewaskan tiga orang dan melukai 79 lainnya.

Pada bulan Juli, pihak berwenang mengatakan sekelompok bersenjatakan pisau menyerang kantor polisi dan kantor pemerintah di Yarkant, menyebabkan 96 orang tewas. Imam masjid terbesar di China, Jume Tahir, ditikam hingga tewas beberapa hari kemudian.

Pada September, sekitar 50 orang tewas dalam ledakan di daerah Luntai di luar kantor polisi, pasar dan toko. Detil dari kedua insiden tersebut tidak jelas dan para pegiat menyangkal beberapa detil laporan tentang insiden itu di media pemerintah.

Beberapa kekerasan juga tumpah meluber dari Xinjiang. Sebuah aksi penikahan di Kunming pada bulan Maret di provinsi Yunnan, menewaskan 29 orang, dan pemerintah menyebut separatis Xinjiang adalah pelakunya, seperti juga kejadian Oktober 2013, ketika sebuah mobil menabrak kerumunan dan terbakar di alun-alun Tiananmen, Beijing.

Aparat kemudian meluncurkan apa yang mereka sebut "kampanye satu tahun melawan terorisme", meningkatkan keamanan di Xinjiang dan meningkatkan latihan militer di wilayah tersebut.

Serangan di Lapangan Tiananmen, Oktober 2013, juga dituduhkan pada separatis Uighur dari Xinjiang (foto: Reuters/BBC Indonesia)	Serangan di Lapangan Tiananmen, Oktober 2013, juga dituduhkan pada separatis Uighur dari Xinjiang (foto: Reuters/BBC Indonesia)  

Ada juga laporan-laporan tentang vonis massal dan penangkapan sejumlah 'kelompok teror'. Media pemerintah China telah melaporkan daftar panjang orang-orang yang dihukum karena aktivitas ekstremis dan dalam beberapa kasus, hukuman mati.

(Baca Juga: Indonesia Bisa Tekan China untuk Selamatkan Muslim Uighur) 

Akademisi Uighur terkenal, Ilham Tohti ditahan dan kemudian didakwa pada September 2014 atas tuduhan separatisme, yang memicu kecaman internasional.

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program 'reedukasi, atau 'pendidikan ulang'.

Pemerintah China membantah tudingan kelompok-kelompok HAM itu. Pada saat yang sama, ada semakin banyak bukti pengawasan opresif terhadap orang-orang yang tinggal di Xinjiang.

Siapa yang jadi biang keladi?

China sering menunjuk ETIM -East Turkestan Islamic Movement: Gerakan Islam Turkmenistan Timur- atau orang-orang yang terinspirasi oleh ETIM, sebagai pelaku kekerasan baik di Xinjiang maupun di sekitarnya.

ETIM disebutkan ingin membangun sebuah negara Turkmenistan Timur yang berdaulat di China. Menurut Departemen Luar Negeri AS dalam laporan tahun 2006, ETIM adalah 'kelompok separatis etnik Uighur yang paling miltan.'

China Menuding Kaum Separatis Xinjiang sebagai Pelaku Serangan Brutal di Stasiun Kumming pada Maret 2014 (foto: AFP/BBC Indonesia)	China Menuding Kaum Separatis Xinjiang sebagai Pelaku Serangan Brutal di Stasiun Kumming pada Maret 2014 (foto: AFP/BBC Indonesia)  

Cakupan kegiatan ETIM masih belum jelas. Banyak juga yang meragukan kemampuan kelompok ini dalam menggalang langkah ekstrekisme yang serius.

ETIM tak pernah mengaku sebagi pihak yang berada di balik serangan-serangan itu. Namun pemerintah Cina mengatakan Partai Islam Turkmenistan - yang disebut sebagai nama lain ETIM - mengedarkan video yang mendukung serangan di Kunming.

1
2

Berita Terkait

Uighur

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini