nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta-Fakta Gunung Api Raksasa di Bawah Laut Sumatera

Witri Nasuha, Jurnalis · Kamis 03 Januari 2019 22:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 03 337 1999680 fakta-fakta-gunung-api-raksasa-di-bawah-laut-sumatera-cyQ7sxGDtb.jpg Ilustrasi Gunung (Foto: Okezone)

JAKARTA – Gunung api raksasa di bawah laut Sumatera tepatnya laut lepas Pantai Bengkulu, ditemukan oleh tim gabungan pakar geologi Indonesia, Amerika Serikat, dan Perancis. Keberadaan gunung api raksasa tersebut sempat membuah heboh kembali setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.

Penemuan gunung api bawah laut ini diketahui dari hasil penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institute de Physique du Globe) yang berada di Paris.

Keberadaan gunung raksasa tersebut pun dibenarkan oleh Danny Hilman Natadidjaja seorang Pakar Geologi dari Pusat Geotekhnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi (LIPI).

Baca Juga: Ditemukan Gunung Raksasa di Bawah Laut Sumatera, LIPI: Sudah Tidak Aktif

Berikut fakta seputar gunung api raksasa yang berhasil dirangkum oleh Okezone, Kamis (3/1/2019) :

1. Ada Sejak Ratusan Tahun Lalu Namun Sudah Tidak Aktif

Pakar Geologi LIPI, Danny Hilman Natadidja, membenarkan keberadaan gunung api raksasa yang berada di bawah laut Sumatera tepatnya berada di laut lepas Pantai Bengkulu. Berdasarkan penelitian, keberadaan gunung tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Saat ini status gunung api tersebut sudah tidak aktif kembali.

Pada massanya, gunung api yang berada di bawah perairan Sumatera ini memang pernah aktif. Namun, saat ini gunung tersebut sudah tidak aktif dan tidak berbahaya.

"Dulunya jelas ada, pernah aktif, tapi sekarang sudah enggak aktif, itu ada di tengah laut, gunung api, di bawah laut. Intinya enggak berbahaya, sudah enggak aktif, sudah mati, dan jadi mumi," ujar Danny.

Gunung Krakatau

2. Disebut Gunung Api Raksasa

Gunung api yang ditemukan oleh tim gabungan pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis ini merupakan gunung yang sangat tinggi dan besar dengan diameter mencapi 50 KM dan tinggi 4600 meter atau sekira 2,6 KM.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT, Yusuf Surachman, mengatakan, tidak ada gunung setinggi gunung api di bawah laut Sumatera tersebut, kecuali Gunung Jayawijaya yang berada di Papua.

Gunung api bawah laut ini berada pada kilometer 330 arah barat Kota Bengkulu, di Palung Sunda barat daya Sumatera, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.

3. Masih Memiliki Kaldera

Diketahui gunung raksasa tersebut memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api. Melansir dari Wikipedia, Kaldera sendiri merupakan fitur fulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik.

Mengetahui gunung raksasa tersebut masih memilki kaldera, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

Keberadaan gunung api raksasa tersebut, sempat membuat heboh kembali setelah Gunung Anak Krakatau mengalami Erupsi.

Sekadar informasi, keberadaan gunung api raksasa ini ternyata sudah diketahui dan ramai diperbincangkan sejak 2013 silam. Asisten II Pemprov Bengkulu tahun 2013 kemarin, Ir M Nasyah, MT, mengatakan bahwa gunung api tersebut berada di antara Pulau Enggano dan Pulau Mega serta merupakan salah satu gunung bawah laut tertinggi di dunia.

Baca Juga: Badan Geologi ESDM: 4,5 Juta Orang Terancam Letusan Gunung Api

Gunung Krakatau

4. Diteliti Lebih Lanjut oleh Geologi ESDM

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) mengaku perlu meneliti lebih lanjut mengenai temuan gunung api raksasa di bawah laut Sumatera tersebut.

Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, mengatakan perlunya penelitian lebih rinci terkait gunung api raksasa tersebut. Menurutnya secara geografis di wilayah ring of fire memungkinkan ada, tetapi jika diisebut raksasa pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“Itu kan informasi yang telah lama, sejauh ini Badan Geologi belum melakukan identifikasi secara rinci. Sejauh sejarah Gunung Api Indonesia sih tidak ada (bahaya),” ujarnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini