nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rilis 'Daftar Seks' Universitas Perempuan, Majalah di Jepang Minta Maaf

Agregasi VOA, Jurnalis · Rabu 09 Januari 2019 08:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 09 18 2001855 rilis-daftar-seks-universitas-perempuan-majalah-di-jepang-minta-maaf-3SdrTQF5Tu.jpg Foto: Reuters.

TOKYO - Sebuah majalah di Jepang pada Selasa, 8 Januari meminta maaf setelah membuat daftar universitas khusus perempuan yang mahasiswinya “paling mudah” untuk ditiduri saat pesta, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Daftar yang dimuat majalah mingguan “Spa!” pada edisi 25 Desember itu menyulut kemarahan sejumlah mahasiswi.

loading...

Di media sosial bahkan muncul kampanye yang mendesak majalah tersebut meminta maaf dan menghentikan penjualan edisi tersebut.

Petisi di change.org itu menyebut artikel tersebut “tidak menghormati dan mengobjektivikasi perempuan”. Sampai Selasa, sebanyak 28.000 orang telah memberikan tanda tangan dukungan.

“Kami memohon maaf karena menggunakan bahasa sensasional untuk memikat pembaca soal artikel bagaimana mereka bisa intim dengan perempuan.

“Kami juga meminta maaf karena membuat rangking, dengan nama universitas yang sebenarnya, sehingga menyinggung orang-orang,” kata redaksi majalah tersebut dalam surat yang diterima AFP.

Perempuan marjinal?

Artikel yang ditulis “Spa!” menyoal aktivitas yang dalam bahasa Jepang kerap disebut “gyaranomi” atau pesta minum-minum yang mana para lelaki membayar perempuan untuk hadir.

Majalah itu menyebut bahwa pesta tersebut populer di kalangan mahasiswa. Majalah kemudian mewawancara seorang pengembang aplikasi kencan yang digunakan lelaki untuk mencari pasangan perempuan.

Spa!” mengungkapkan daftar universitas itu diambil dari hasil wawancara dengan pengembang aplikasi.

“Untuk hal-hal terkait seks, kami akan dengar masukan berbagai pihak,” tulis majalah itu.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda edisi tersebut akan dihentikan peredarannya.

Jepang berada di peringkat bawah soal keterwakilan perempuan dalam bisnis dan politik negara-negara G7. Berbagai kampanye, misalnya #MeToo juga terkendala di sini.

Tahun lalu, sebuah universitas kedokteran ternama mengaku menurunkan nilai para pelamar perempuan agar jumlah mahasiswa perempuan tetap dengan proporsi 30%.

Temuan itu membuat fakta lain bermunculan: bahwa diskriminasi serupa terjadi di berbagai sektor.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini