nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bupati Timor Tengah Utara Bantah Menganiaya Warganya

Adi Rianghepat, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 10:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 10 340 2002432 bupati-timor-tengah-utara-bantah-menganiaya-warganya-r6SzIj4m4M.jpg Pengeroyokan (Shutterstock)

KUPANG - Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi Nusa Tenggara Timur Raymundus Sau Fernades membantah ikut menganiaya warganya saat melakukan kunjungan lapangan ke sebuah desa daerah batas negara itu. Bahkan, bupati dua periode itu mengungkapkan bahwa yang terjadi adalah penghadangan yang dilakukan warga saat dia bersama rombongannya melakukan kunjungan lapangan.

"Itu kejadiannya saya dan rombongan itu dihadang dan tidak ada penganiayaan atau cekik mencekik," tulis Ray Fernandes melalui pesan pendeknya, Kamis (10/1/2019).

 Baca juga: Minta Dikerokin Istri Orang, Pria Ini Babak Belur Dipukuli Suami yang Cemburu

Menurutnya, cerita kejadian tersebut telah dipelintir oleh berbagai pihak dan akhirnya sudah membias. "Sekarang ini sudah bias jauh sekali," katanya.

Sebelumnya, Bupati Raymundus Fernandes diduga kuat ikut serta menganiaya warganya yang menolak lahannya dijadikan sebagai lokasi tambak garam. Bersama ajudan dan supir serta seorang pimpinan dinas setempat, Bupati TTU dua periode itu ikut mencekik Yohakim Ulu Besi seorang petani miskin berusia 54 tahun warga Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu.

 Baca juga: Adu Komentar di Youtube, Warga Tangerang Babak Belur Dipukuli Anggota Ormas

Meskipun prosedur pelaporan hingga visum et repertum dilakukan korban dibantu oleh lembaga bantuan hukum setempat sejak 21 Desember silam, namun kasus ini masih saja mangkrak. Aparat penyidik dinilai sedang bermain mata dengan para pihak yang diduga terlibat.

 Penganiayaan

"Kami terus mendesak aparat kepolisian di Polres TTU untuk segera memproses kasus ini hingga benar-benar hukum ditegakkan. Kasihan korban ini hanya masyarakat kecil dan miskin serta tak berdaya," kata Direktur Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum (PLBH) Timor Adrianus Magnus Kobesi.

Menurut dia, terindikasi ada skenario yang mau dipertontonkan oleh aparat yang telah berselisih dengan para penguasa di kabupaten batas negara itu dan mengabaikan rasa keadilan masyarakat.

 Baca juga: Tersinggung Chat di Media Sosial, Syahril Tebas Tangan Mekanik Honda

"Korban ini masyarakat kecil yang tentu membutuhkan perlindungan dan patut diayomi, bukan malah dianiaya dan lalu kasusnya dibiarkan seperti ini," kata alumni FH Universitas Katolik Widya Mandira itu.

Dirinya mengatakan, bila terjadi penganiayaan oleh sejumlah orang termasuk pemimpin daerah akan menunjukan kesombongan penguasa terhadap warganya. Ada kesewenang-wenangan yang telah dipraktikan oleh penguasa terhadap warganya sendiri.

Magnus menceriterakan, kejadian penganiayaan dengan mencekik itu terjadi pada Jumat 21 Desember 2018 saat korban Yoakim Ulu Besi dan sejumlah warga di Desa Ponu menolak kedatangan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes bersama investor tambak garam. Di mana kedatangan mereka untuk menyurvei lokasi tambak di lahan milik korban dan warga.

Aksi yang dilakukan seorang kepala daerah itu tentunya ditolak warga, karena tak ada penyampaian sebelumnya.

"Bagaimana tanpa pemberitahuan atau sosialisasi terlebih dahulu soal pemanfaatan lahan warga, lalu tiba-tiba bupati datang bersama rombongan investor dan melakukan survei terhadap lahan warga. Ya, tentu ditolaklah," katanya.

Seharusnya lanjut Magnus, pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah sebagai pra kondisi pemanfaatan lahan milik warga. Misalnya dengan melakukan sosialiasi awal terkait pemanfaatan lahan warga itu. "Bagaimana mekanismenya dan seperti apa bagi hasil dan sebagainya. Yang terjadi tak seperti itu wajarlah masyarakat menolaknya," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini